Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BMKG Catat 15.722 Gempa Susulan Guncang NTT, 190 Kali Dirasakan Warga
Advertisement . Scroll to see content

Ngeri! BMKG Temukan Indikasi Likuefaksi di Nagekeo usai Gempa M7,7 NTT

Selasa, 15 September 2026 - 16:49:00 WIB
Ngeri! BMKG Temukan Indikasi Likuefaksi di Nagekeo usai Gempa M7,7 NTT
BMKG menemukan indikasi likuefaksi berupa sand boil di Kabupaten Nagekeo usai gempa M7,7 NTT. (Foto: BMKG)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menemukan indikasi likuefaksi berupa sand boil setelah gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Temuan tersebut diperoleh dalam survei pascagempa yang dilakukan BMKG di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka pada 15-25 Agustus 2026.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu mengatakan survei dilakukan untuk memverifikasi dampak gempa dan tsunami sekaligus mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Untuk hasilnya, yang pertama melalui survei makroseismik, dihasilkan tingkat guncangan dan juga dampak, di mana guncangan maksimum mencapai VII MMI di beberapa lokasi di Manggarai Barat, Manggarai, kemudian Manggarai Timur, Nagekeo, dan juga Sikka. Tim juga menemukan indikasi likuefaksi berupa sand boil di Dusun Marikota, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo," kata Teguh saat konferensi pers, Selasa (15/9/2026).

Selain menemukan indikasi likuefaksi, Teguh mengatakan survei mikrotremor BMKG menunjukkan sebagian besar wilayah yang diteliti didominasi kelas tanah sedang. Namun, terdapat pula kelas tanah lunak yang berpotensi memperkuat guncangan di wilayah Riung, Mbay, dan Marapokot.

Temuan tersebut menunjukkan dampak gempa M7,7 NTT tidak hanya berupa guncangan yang dirasakan masyarakat, tetapi juga memengaruhi kondisi tanah di sejumlah wilayah.

Teguh juga mengungkapkan tim BMKG menemukan jejak tsunami di sepanjang pantai utara Flores. Run-up tertinggi tercatat 2,68 meter di Desa Salama, disusul 2,42 meter di Tadu Tengah, 2,39 meter di Dusun Tompong, dan 2,24 meter di Nanga Dero.

Sementara itu, inundasi terjauh mencapai 145 meter di Nampar Sepang, 136 meter di Desa Salama, dan 60 meter di Tadu.

Akibat tsunami tersebut, dua rumah tersapu di Desa Salama. Secara keseluruhan, 23 rumah terlanda tsunami di Desa Salama, Dusun Nampar, Desa Tadu, dan Desa Nanga Dero.

"Dampak dari kejadian tsunami ini, ada dua rumah tersapu tsunami di Desa Salama dan total 23 rumah terlanda tsunami di Desa Salama, Dusun Nampar, Desa Tadu, dan juga Desa Nanga Dero," kata Teguh.

Meski demikian, tidak ada korban jiwa akibat tsunami. Teguh mengatakan masyarakat telah melakukan evakuasi setelah menerima peringatan dini tsunami dari BMKG.

"Namun demikian, tidak ada korban akibat tsunami ini karena masyarakat sudah melakukan evakuasi setelah menerima peringatan dini tsunami dari BMKG. Kemudian tim BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi, baik itu melalui tokoh masyarakat, pemuka agama, dan juga masyarakat-masyarakat yang berada di titik pengungsian," tutur dia.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut