Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Duh, Pejabat Perusahaan Farmasi Pingsan di Dekat Trump saat Pengumuman Harga Obat Diet
Advertisement . Scroll to see content

Pakar Unpad Perkirakan Biaya Pengobatan Gangguan Jiwa di Indonesia Capai Rp87,5 T

Kamis, 01 Juni 2023 - 15:51:00 WIB
Pakar Unpad Perkirakan Biaya Pengobatan Gangguan Jiwa di Indonesia Capai Rp87,5 T
ilustrasi obat untuk gangguan kejiawan (freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Irma Melyani Puspitasari memperkirakan total biaya pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mencapai Rp87,5 triliun. Angka tersebut mencakup beberapa gangguan kesehatan jiwa.

Irma mengatakan angka tersebut merupakan estimasi prevalensi gangguan kesehatan jiwa yang terdiri atas skizofrenia, bipolar, depresi, dan gangguan kecemasan selama setahun. Ia memaparkan biaya skizofrenia mencapai Rp1,5 triliun, gangguan bipolar Rp62,9 triliun, depresi Rp18,9 triliun, dan gangguan kecemasan Rp4,2 triliun.

Diketahui, pada 2018 ada sekitar 470.000 orang di Indonesia mengalami skizofrenia. Kemudian, gangguan bipolar, depresi, dan gangguan kecemasan dialami oleh sekitar 19 juta orang di Indonesia.

Dalam penelitian yang dilakukan Irma dan tim pada 2020, didapatkan hasil bahwa biaya rata-rata pengobatan skizofrenia untuk satu tahun itu sekitar Rp3,3 juta. Kemudian, gangguan bipolar sekitar Rp17,9 juta, depresi sekitar Rp1,6 juta per tahun dan gangguan kecemasan Rp1,1 juta.

Estimasi penghitungan ini didasarkan pada Burden of Disease (BOD) atau cost of illness. Pada studi cost of illness ada beberapa biaya yang dapat diikutsertakan, yaitu biaya langsung, biaya tidak langsung, dan biaya intangible.

“Biaya langsung biasanya berupa biaya obat, biaya konsultasi dokter, dan biaya administrasi. Biaya tidak langsung itu kerugian produktivitas karena tidak bekerja dan juga ada biaya intangible,” tutur dia dikutip dari laman Unpad, Kamis (1/6/2023).

Sayang, kata Irma, estimasi biaya kesehatan jiwa ini sebenarnya lebih rendah karena tidak semua individu dengan gangguan jiwa di Indonesia mencari pertolongan untuk kondisinya atau patuh berobat. Data Riskesdas melaporkan bahwa hanya 9 persen pasien depresi di Indonesia yang mendapatkan pengobatan.

“Hal ini mungkin terjadi karena pengetahuan tentang kesehatan jiwa yang kurang baik, sikap negatif terhadap pengobatan, efek samping pengobatan, efek terapeutik yang buruk, serta adanya stigma di masyarakat,” ucap Irma.

Dalam penelitiannya, Irma juga mengadakan survei tentang persepsi, pengetahuan, serta sikap terhadap gangguan kesehatan jiwa dan pengobatannya kepada para mahasiswa. Hasilnya, 51,29 persen mahasiswa masih memiliki perspektif negatif terhadap gangguan kesehatan jiwa dan pengobatannya.

Karena itu, Irma menyampaikan bahwa promosi kesehatan tentang gangguan kesehatan jiwa harus dilakukan untuk meningkatkan perspektif menjadi positif, pengetahuan yang lebih baik, dan juga sikap positif dari masyarakat dan salah satu caranya adalah melalui media sosial.

Irma dan tim pun mengembangkan aplikasi “De-stres” untuk memantau stress level dan deteksi dini dari gangguan kesehatan jiwa di Indonesia. Aplikasi ini dapat mengukur tingkat stress dan membantu orang mengenali respon tubuh terhadap stress serta deteksi dini gangguan kesehatan jiwa seseorang.

“Aplikasi ini sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan telah diunduh lebih dari 1.800 pengguna,” kata Irma.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut