Pangkopassus Ubah Tradisi, Prajurit Non-Komando Dilarang Pakai Baret Merah
JAKARTA, iNews.id - Panglima Komando Pasukan Khusus (Pangkopassus) TNI AD, Letjen TNI Djon Afriandi melarang prajurit non-Komando memakai baret merah dalam kebijakan baru yang langsung mengubah tradisi di tubuh Kopassus. Langkah tersebut menjadi bagian dari validasi organisasi yang kini diperketat.
Djon menegaskan, prajurit yang tidak memiliki kualifikasi Komando tidak lagi diperbolehkan menggunakan baret merah saat bertugas di satuan elite tersebut. Kebijakan ini berlaku menyeluruh dan mulai diterapkan dalam setiap aktivitas kedinasan.
"Butuh kebesaran hati dari rekan-rekan Kowad, rekan-rekan yang kebetulan tidak berkualifikasi komando untuk bisa menerimanya tidak menggunakan baret merah lagi sebagai pelengkap seragam dinas di satuan ini," ujar Djon dalam keterangannya dikutip, Sabtu (25/4/2026).
Djon menambahkan, perubahan ini tidak sekadar aturan seragam, tetapi bagian dari penataan internal Kopassus agar simbol kehormatan tetap melekat pada prajurit yang benar-benar melalui proses kualifikasi komando.
Prabowo Ucapkan Dirgahayu ke-74 Kopassus, Bagikan Foto saat Masih Jadi Prajurit
Meski begitu, dia memastikan penghargaan terhadap prajurit non-komando tetap diberikan. Salah satunya melalui penyediaan pin khusus sebagai identitas resmi bagi mereka yang pernah bertugas di Kopassus.
"Kita membuat pin khusus buat rekan-rekan yang kebetulan tidak berkualifikasi komando namun bertugas di Kopassus untuk menggunakan pin tersebut secara sah," tuturnya.
Profil Prihati Pujowaskito, Dokter Kopassus Jadi Dirut BPJS Kesehatan
Nantinya, pin itu menjadi simbol pengabdian yang tetap diakui di lingkungan Kopassus. Dengan begitu, ikatan emosional antaranggota tetap terjaga meski tidak lagi menggunakan baret merah.
"Sehingga kita yang Kopassus setelah melihat pin tersebut akan tahu bahwa perwira tersebut, anggota tersebut pernah berdinas dan mengabdi di satuan ini dengan pengabdian terbaiknya," katanya.
Djon juga menegaskan, kebijakan ini berdampak langsung pada tradisi pembaretan. Ke depan, tidak ada lagi proses pembaretan bagi prajurit TNI AD yang tidak memiliki kualifikasi Komando.
"Tadi kita lihat, saya menyematkan pin memang ini sedikit berubah dan validasi organisasi ini di mana kita tidak ada lagi pelaksanaan pembaretan untuk menerima rekan-rekan yang kebetulan tidak berkualifikasi komando. Untuk melaksanakan pembaretan menggunakan baret merah," ujarnya.
Dalam proses validasi organisasi tersebut, Kopassus tetap akan menerima sekitar 1.400 prajurit TNI AD tanpa kualifikasi Komando untuk mendukung kebutuhan satuan. Namun, mereka tidak akan mengikuti tradisi penggunaan baret merah.
Adapun, untuk mendapatkan kualifikasi Komando pertama brevet Komando, kedua pisau Komando, ketiga baret merahnya sebagai baret Komando.
Dia menegaskan, tiga unsur tersebut tidak boleh lepas dari satu paket yang sudah dilalui selama latihan penuh selama tujuh bulan atau sekarang empat bulan dengan persiapan tiga bulan.
"Bila kita sibuk melaksanakan pembaretan sedangkan teman-teman yang komando kebetulan dia harus melaksanakan tujuh bulan untuk latihan dan paketan untuk mendapat kualifikasi Komando," kata dia.
Editor: Aditya Pratama