Pasien RS di Kalteng Melonjak 3 Kali Lipat akibat Karhutla, Puan Minta Pelayanan Diperkuat
JAKARTA, iNews.id - Ketua DPR Puan Maharani menyoroti lonjakan jumlah pasienrumah sakit di Kalimantan Tengah (Kalteng) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dia meminta pemerintah memperkuat penanganan krisis kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas, untuk memastikan warga terdampak mendapat pelayanan yang memadai.
“Peningkatan pasien di rumah sakit di Kalimantan Tengah menunjukkan krisis kesehatan akibat Karhutla semakin besar. Infrastrukur kesehatan di wilayah ini harus semakin diperkuat,” kata Puan, dikutip Selasa (27/10/2026).
Puan menyambut langkah pemerintah menambah dukungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak karhutla. Namun, dia menekankan bantuan perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap rumah sakit agar dapat segera dimanfaatkan.
“Penguatan tersebut juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap rumah sakit agar bantuan segera dapat digunakan untuk pelayanan,” tuturnya.
Puan mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama dinas kesehatan memperbarui data jumlah pasien, kebutuhan perawatan, tingkat keterisian tempat tidur, serta kemampuan fasilitas kesehatan dalam menerima rujukan.
“Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan rumah sakit yang membutuhkan tambahan dukungan paling mendesak. Keputusan bantuan perlu mengikuti kebutuhan pelayanan saat ini,” jelas Puan.
Menurutnya, rumah sakit yang menerima lonjakan pasien harus segera mendapat dukungan sesuai kekurangan tenaga kesehatan, sarana, dan kapasitas perawatan.
“Rumah sakit yang menerima pasien lebih banyak harus segera memperoleh dukungan yang sesuai dengan kekurangan tenaga, sarana, dan kapasitas perawatannya,” kata mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) itu.
Selain rumah sakit, Puan meminta pelayanan di puskesmas diperkuat agar warga dapat menjalani pemeriksaan lebih awal dan memperoleh penanganan sesuai kondisi klinisnya. Langkah ini diperlukan untuk membantu mengantisipasi peningkatan kasus gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
“Pada saat yang sama, penguatan penanganan dampak asap Karhutla perlu pula menjaga keberlangsungan pelayanan lain, termasuk persalinan, tindakan gawat darurat, dan pengobatan rutin,” ucap Puan.
Puan juga mengingatkan pemerintah agar memperhatikan kondisi keluarga yang menghadapi berbagai kesulitan sekaligus. Kebutuhan perawatan yang meningkat dapat terjadi bersamaan dengan berkurangnya penghasilan akibat terbatasnya aktivitas selama karhutla.
Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu menyepakati bentuk dukungan yang dapat diandalkan selama kondisi darurat berlangsung. Keluarga terdampak membutuhkan kepastian mengenai tempat memperoleh bantuan, termasuk ketika anggota keluarga masih membutuhkan perawatan atau aktivitas mencari nafkah belum dapat kembali normal.
"Harapan keluarga adalah dapat mendampingi orang yang sakit tanpa kehilangan pijakan untuk menjalani hari berikutnya. Dukungan negara perlu memberi mereka kepastian selama melewati masa sulit ini,” sebut Puan.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan jumlah pasien yang masuk rumah sakit di Kalteng meningkat hingga tiga kali lipat di tengah memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla.
Lonjakan pasien tersebut diduga berkaitan dengan penurunan kualitas udara dan meningkatnya polusi akibat kebakaran hutan dan lahan. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalteng dilaporkan mencapai lebih dari 72.431 kasus, dengan jumlah tertinggi di Kota Palangka Raya.
Salah satu rumah sakit yang terdampak lonjakan pasien yakni RSUD dr. Doris Sylvanus di Palangka Raya. Kapasitas rumah sakit tersebut mulai padat, meski pelayanan masih dapat ditangani.
Kemenkes juga disebut telah menyiapkan percepatan distribusi bantuan peralatan medis, termasuk ventilator, ke sejumlah rumah sakit di kabupaten dan kota di Kalteng untuk mendukung penanganan pasien terdampak karhutla.
Editor: Rizky Agustian