Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Amanah Wali 8 Hadirkan Suasana Baru Ramadan 2026, Serial Komedi Penuh Pesan Moral
Advertisement . Scroll to see content

Penentuan Awal Ramadhan Pakai Metode Rukyatul Hilal, Ini Penjelasan NU

Selasa, 17 Februari 2026 - 10:31:00 WIB
Penentuan Awal Ramadhan Pakai Metode Rukyatul Hilal, Ini Penjelasan NU
Ilustrasi penentuan Ramadan menggunakan metode Rukyatul Hilal. (Foto: Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Penentuan awal Ramadan akan menggunakan metode rukyatul hilal. Penentuan itu, bisa dilihat setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah.

Menurut Sekretaris Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jakarta Ikhwanudin jika hilal tidak terlihat, maka dilakukan istikmal, yakni menggenapkan jumlah hari dalam hijriyah, dan bukan berdasarkan rukyatul kusuf atau pengamatan terhadap gerhana matahari.

"Dasar penetapan awal bulan hijriah adalah terlihatnya hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29 hijriah. Jika hilal tidak terukyat, maka dilakukan istikmal, bukan berdasarkan rukyatul kusuf. Gerhana hanya merupakan indikator," ujarnya melalui keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, melaksanakan rukyatul hilal merupakan fardlu kifayah pada saat matahari terbenam tanggal 29 Hijriah, khususnya bulan Sya’ban dan Ramadan guna menentukan awal puasa dan hari berbuka (Idulfitri). 

Mayoritas imam mazhab berpendapat rukyat menjelang Ramadan dan Syawal berstatus fardlu kifayah, berbeda dengan Mazhab Hanbali yang menilainya sunnah.

"Mayoritas imam mazhab berpendapat rukyat menjelang Ramadhan dan Syawal berstatus fardlu kifayah. Berbeda dengan Mazhab Hanbali yang menilainya sunnah," tuturnya.

Adapun LFNU akan menggelar rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026 M. Berdasarkan hasil perhitungan untuk Kota Jakarta, konjungsi akhir bulan Syakban 1447 H terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026, pukul 19.02 WIB.

Perhitungan dilakukan pada koordinat 06°09'32'' LS dan 106°42'56'' BT dengan elevasi 20 mdpl. Saat matahari terbenam pukul 18.16 WIB di azimut 258°, tinggi bulan toposentris tercatat -0,9° dengan elongasi geosentris 1°, azimut bulan 257°, dan iluminasi 0 persen.

Bulan telah lebih dahulu terbenam pada pukul 18.12 WIB, atau empat menit sebelum matahari terbenam.

"Dengan parameter tersebut, kondisi hilal tergolong istihalaturru'yah, yakni keadaan ketika hilal mustahil terlihat, sehingga berpotensi istikmal, kita tunggu hasil isbat pemerintah," katanya.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut