Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ada 3 Bibit Siklon Tropis, Waspada Gelombang Tinggi hingga 6 Meter 
Advertisement . Scroll to see content

Penjelasan Ilmiah BMKG soal Bencana Banjir di Wilayah Indonesia

Minggu, 28 April 2019 - 15:00:00 WIB
Penjelasan Ilmiah BMKG soal Bencana Banjir di Wilayah Indonesia
Foto dari udara yang mereka secara jelas dampak genangan air dari banjr bandang di Bengkulu. (Foto: iNews.id/Dok.)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, INews.id – Beberapa wilayah di Indoensia mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bencana tersebut muncul antara lain karena masa transisi musim hujan ke musim kemarau yang diganggu oleh fenomena gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO).

Deputi I Bidang Meteorologi BMK, Mulyono Rahani Prabowo mengatakan, sebagian besar Indonesia memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau yang umumnya terjadi pada April hingga Juni. Pada celah transisi kemarau itu, ada potensi kondisi cuaca yang disebut sebagai Madden Julian Oscillation.

Dia mengatakan, aktivitas musim di Indonesia sebenarnya masih dalam kondisi normal. Namun, karena adanya gangguan aktivitas MJO dalam kondisi transisi, curah hujan menjadi tinggi. Menurut Mulyono, MJO sebetulnya muncul di Samudera Hindia sejak dua hari yang lalu. Namun kemudian merambat ke arah timur hingga akan menyeberang ke wilayah Indonesia.

“Tumbuh di Samudra Hindia kemudian masuk ke Indonesia sehingga daerah Indonesia bagian barat dari Sumatra Barat, Bengkulu Lampung, Jawa bagian barat ini mengalami aktivitas pertumbuhan awan yang cukup lebat dan cukup kuat sehingga terjadi hujan cukup lebat,” katanya kepada iNews.id saat dihubungi, Minggu (27/4/2019).

Mulyono menuturkan, aktivitas MJO selanjutnya akan merambah ke arah bagian timur Indonesia. Jika dilihat pada perkembangan awan, fenomena tersebut akan bertahan hingga satu pekan ke depan.

Selain faktor MJO, dia menjelaskan, banjir di beberapa wilayah di Indonesia juga disebabkan permukaan lingkungan yang sudah tidak berimbang. Mulyono mengatakan, hujan yang turun ke permukaan tanah dibagi menjadi tiga. Ada yang diuapkan ke udara; diserap oleh tanah, kemudian; sisa dari yang diuapkan dan diserap akan dialirakan ke permukaan tanah.

“Sebelumnya, banjir jarang terjadi karena masih banyak daerah resapan, kemudian daerah itu mengalami tutupan karena bangunan padat. Kecenderungan daya serap di daerah itu otomatis akan menurun, sehingga ketika hujan turun, airnya tidak tergenang karena tak terserap oleh tanah,” kata dia menjelaskan.

Menurut Mulyono, penyebab tidak terhenti di situ saja. Sesuai sifatnya, air akan mengalir ke permukaan yang rendah. Ketika hujan turun, air akan mencari daerah rendah atau sungai. Jika sungai penuh dengan sampah atau mengalami penyempitan, air yang seharusnya mengalir dengan lancar ke laut akan terhambat, sehingga meluap.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut