Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Penumpang Penerbangan Domestik Anjlok saat Nataru, Minat ke Luar Negeri Justru Meningkat
Advertisement . Scroll to see content

Petang Kelabu di Yogya: Kisah Gugurnya Abdulrachman Saleh, Adisutjipto dan Adi Soemarmo

Kamis, 29 Juli 2021 - 05:15:00 WIB
Petang Kelabu di Yogya: Kisah Gugurnya Abdulrachman Saleh, Adisutjipto dan Adi Soemarmo
Pemindahan kerangka pahlawan dan perintis AU, Abdulrachman Saleh dan Adisutjipto dari Pemakaman Pakuncen, Bantul, DIY pada 14 Juli 2000. (Foto: Dispenau).
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Mesin pesawat Dakota VT-CLA meraung di langit Yogyakarta. Usai terbang dari Singapura, burung besi milik pengusaha India yang mengangkut obat-obatan untuk Palang Merah Indonesia itu sudah bersiap mendarat di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Sore itu, 29 Juli 1947 atau tepat hari ini 74 tahun silam. Sehari sebelumnya, pers dan radio Malaya telah menyiarkan berita pesawat Dakota VT-CLA akan tiba di Yogyakarta esok. Penerbangan itu disebut telah memperoleh persetujuan dari Pemerintah Belanda.

Namun menjelang landing, tragedi terjadi. Dari arah Utara mendadak muncul dua pesawat pembom P-40 Kitty Hawk Belanda. 

"Waktu menunjuk pukul 17.00 ketika tembakan dilepas beberapa kali. Peluru mengenai pesawat angkut tanpa senjata tersebut," kata Irna Hadi Soewito dkk dalam buku 'Awal Kedirgantaraan Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950', dikutip Kamis (29/7/2021).

TNI AU dalam laman situs resmi mereka juga menggambarkan kengerian petang kelabu tersebut. Kitty Hawk Belanda kalap memberondongkan tembakan.

“Secara bertubi-tubi peluru dimuntahkan ke pesawat Dakota VT-CLA. Pesawat ini jatuh kemudian membentur pohon, patah menjadi dua dan terbakar, hanya sebagian ekornya saja yang masih utuh,” bunyi pernyataan TNI AU.

Tragedi itu sangat menyakitkan bagi militer Indonesia, terutama Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Awak dan penumpang meninggal dunia.

Mereka yang gugur yakni Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Opsir Udara Adisoemarmo Wiryokusumo, dan Zainal Arifin. Kemudian, pilot Alexander Noel Constantine (Wing Comander Australia), Co pilot Squadron Leader Inggris Roy Hazelhurst, Juru Teknik India Bidha Ram dan Ny Constantine.

Menurut TNI AU, ada seorang penumpang selamat yakni Gani Handonotjokro, yang kebetulan duduk dekat ekor.

Versi berbeda ditulis Irna Soewito. Dalam buku Kedirgantaraan itu disebutkan Ny Alexander Noel Constantine masih hidup, namun dalam kondisi luka parah. Sedangkan Gani selamat dengan luka ringan.

Kota Yogyakarta berkabung atas jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA. Peti-peti jenazah ditempatkan berjejer di Hotel Tugu. Pada hari pemakaman rakyat penuh sesak di sepanjang Jalan Malioboro untuk memberi penghormatan terakhir kalinya pada pahlawan dan pelopor AURI. 

"Peristiwa gugurnya perwira-perwira AURI yang sukar dicari gantinya, sungguh merupakan lembaran hitam," ucap Irna.

Jenazah Abdulrachman Saleh dan Adisutjipto dikebumikan di pemakaman Pakuncen, Yogyakarta. Kelak pada 14 Juli 2000, kerangka keduanya dipindahkan ke lokasi tempat jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di Desa Jatingarang, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Pemindahan kerangka ini dilakukan atas prakarsa KSAU, saat itu, Marsekal TNI Hanafie Asnan. Monumen Ngoto yang menjadi penanda tragedi itu juga dipugar menjadi megah, lengkap dengan sarana prasarana. Monumen Ngoto tersebut kemudian diganti namanya menjadi “Monumen Perjuangan TNI Angkatan Udara”.

Pak Karbol

Abdulrachman Saleh lahir dari keluarga dokter di Kampung Ketapang (Kwitang Barat), Jakarta, pada 1 Juli 1909. Ayahnya, dr Mohammad Saleh, berasal dari Salatiga. 

Nama Mohammad Saleh dikenal sebagai dokter juga orang dermawan di masyarakat, terutama Probolinggo, Jawa Timur.M Saleh lulus menjadi dokter seangkatan dengan dr Sutomo, pendiri Budi Utomo.

Pendidikan Abdulrachman Saleh dimulai dengan Holland Indische School (HIS), kemudian Meer Urgebreid Lagere Onderwijs (MULO). Selepas itu, dia mengikuti jejak ayahnya menjadi dokter dengan bersekolah di School Tot Opleding van Indische Artsen (STOVIA) Jakarta. 

Sayang belum tamat, sekolah itu dibubarkan Belanda. Dia lantas meneruskan Geneeskundige Hooge School (GHS) atau semacam sekolah kesehatan.

Setelah Indonesia merdeka, Maman mengalihkan perhatiannya pada perjuangan di bidang kedirgantaraan dengan memilih berjuang ke AURI.  Pada saat AURI masih dalam pertumbuhan, dia bersama perintis Angkatan Udara lainnya terus berupaya untuk mengembangkan kejayaan Angkatan Udara.  

Di Yogyakarta Abdulrachman belajar mengemudikan pesawat Cureng bersayap dua. Di situ Adisutjipto bertindak sebagai instrukturnya. Pada 1946 Maman dipercaya sebagai Komandan Pangkalan Udara Madiun.

Abdulrachman Saleh punya panggilan unik, Pak Karbol. Berdasarkan Surat Keputusan Komandan Akademi Angkatan Udara Nomor: 145/KPTS/AAU/1965 tertanggal 3 Agustus 1965, nama “Karbol” menggantikan “Kadet” Angkatan Udara.

Dalam perjalanan sejarah panggilan “Karbol” pernah berubah menjadi “Taruna”. Namun “Karbol” kembali dikukuhkan sebagai panggilan Taruna AAU berdasarkan Surat Keputusan KSAU Nomor : Skep/179/VII/2000 tanggal 18 Juli 2000.

Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai nama lanud di Malang, Jawa Timur.  Begitu juga nama Adisutjipto yang menjadi nama lanud d Yogyakarta dan Adi Soemarmo lanud Solo.

Editor: Faieq Hidayat

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut