Pimpinan MUI, PBNU hingga Muhammadiyah Hadiri Bukber bareng Prabowo di Istana
JAKARTA, iNews.id - Sejumlah pimpinan organisasi Islam tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Mereka akan menghadiri undangan buka puasa bersama (bukber) dengan Presiden Prabowo Subianto.
Pantauan iNews.id, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar terpantau tiba sekitar pukul 15.54 WIB, lalu Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar tiba.
“Buka puasa bersama,” kata Anwar Iskandar kepada awak media.
Dia mengatakan sejumlah tokoh agama dan pimpinan ormas Islam lain juga diundang dalam kegiatan tersebut, termasuk mubalig serta pengasuh pondok pesantren besar yang memiliki jaringan luas di Indonesia.
AHY Ungkap Pesan SBY kepada Prabowo terkait Perang AS-Israel vs Iran
“Ya nanti semua ketua umum ormas Islam, sama mubalig, dan pengasuh pondok pesantren, yang pondok pesantren besar dan mempunyai jaringan yang luas,” ujarnya.
Terkait kemungkinan pembahasan isu geopolitik, khususnya konflik yang tengah terjadi di Timur Tengah, Anwar mengaku belum mengetahui apakah hal tersebut akan menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan tersebut.
Prabowo Undang Ulama ke Istana Hari Ini, Bahas Perang AS-Israel vs Iran?
Prabowo Kirim Surat Sampaikan Belasungkawa Wafatnya Ali Khamenei
“Enggak tahu itu,” ujarnya.
Dia menilai agenda yang berlangsung kemungkinan hanya sebatas buka puasa bersama mengingat waktu yang cukup terbatas. Meski demikian, dia menilai komunikasi antara ulama dan pemerintah tetap penting untuk terus diperkuat.
Menag usai Menghadap Prabowo: Nuzulul Quran Digelar di Istana
“Kalau ada diskusi malah lebih bagus. Karena mungkin perlu ada komunikasi yang lebih baik antara ulama dan umara,” katanya.
Anwar juga berharap konflik di Timur Tengah tidak semakin meluas dan semua pihak dapat menahan diri demi terciptanya perdamaian. Dia menekankan pentingnya menjaga stabilitas agar konflik tersebut tidak berdampak pada kondisi ekonomi, termasuk di Indonesia.
“Saya enggak mau berandai-andai. Yang jelas, kita inginnya itu semuanya menahan diri, perdamaian tercipta, dan tidak berpengaruh kepada ekonomi, terutama Indonesia. Kalau berpengaruh, kan kalian juga susah,” ujarnya.
Editor: Rizky Agustian