Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : KPK Ungkap Alasan Periksa Bupati Cilacap di Banyumas usai OTT, Apa Itu?
Advertisement . Scroll to see content

Praktik Jual Beli Jabatan Masih Marak, Ketua KASN Beberkan Penyebabnya

Sabtu, 28 Agustus 2021 - 08:26:00 WIB
Praktik Jual Beli Jabatan Masih Marak, Ketua KASN Beberkan Penyebabnya
KASN mengakui jual beli jabatan jabatan pimpinan tinggi pemerintahan masih marak terjadi. (Foto: Ilustrasi/Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Jual beli jabatan menjadi salah satu modus korupsi yang sering dilakukan kepala daerah. Bahkan jual beli jabatan pimpinan tinggi seperti sekretaris daerah (sekda) masih terjadi meskipun penunjukannya melalui seleksi terbuka.

Baru-baru ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Wali Kota nonakaktif Tanjungbalai, M Syahrial dan Sekda Kota Tanjungbalai Yusmada sebagai tersangka kasus dugaan jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kota Tanjungbalai.

Syahrial diduga telah menerima uang sebesar Rp200 Juta dari Yusmada. Uang tersebut merupakan suap agar Yusmada diangkat dari jabatan Kepala Dinas PUPR menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tanjungbalai.

Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Agus Pramusinto mengatakan masih adanya jual beli jabatan karena ada simbiosis mutualisme antara biaya politik yang mahal dengan ASN yang hanya mau jalan pintas untuk dapatkan jabatan.

“Ada simbiosis mutualisme antara biaya politik yang mahal dan mental segelintir ASN yang ingin jalan pintas mencari jabatan strategis,” katanya di Jakarta, Sabtu (28/8/2021).

Menurutnya sistem sebaik apapun akan tetap dicari celahnya jika simbiosis itu masih ada.

“Sistem sebaik apapun akan dicari celahnya oleh pejabat yang integritas dan  mentalnya buruk,” ucapnya.

Menurutnya pemerintah akan terus melakukan perbaikan kebijakan dalam pengelolaan birokrasi serta kepegawaian. Termasuk dengan mengamati modus-modus jual beli jabatan yang menurutnya harus sesegera mungkin diantisipasi.

“Praktik-praktik buruk di lapangan menjadi bahan untuk masukan perbaikan kebijakan,” katanya.

Editor: Rizal Bomantama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut