Prediksi LSI Denny JA: Elektabilitas Golkar Anjlok di Pemilu 2019

Irfan Ma'ruf ยท Rabu, 12 September 2018 - 18:36:00 WIB
Prediksi LSI Denny JA: Elektabilitas Golkar Anjlok di Pemilu 2019
Sejumlah kader Partai Golkar mengikuti kegiatan Orientasi Fungsionaris 2018 di Jakarta, Sabtu (24/3/2018). (Foto: iNews.id/Felldy Utama)

JAKARTA, iNews.id – Pertarungan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 diprediksikan bakal mendongkrak elektabilitas partai pengusung utama masing-masing, yakni PDIP dan Partai Gerindra. Kedua partai itu secara otomatis akan mendapatkan lebih banyak pemilih dibandingkan dengan Partai Golkar yang besar namun tidak memiliki posisi sebagai pengusung calon utama.

Setelah melakukan survei pada Agustus lalu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyimpulkan  bahwa Pemilu 2019 akan menjadi ajang pertarungan sengit antara PDIP dan Partai Gerindra. Kedua partai itu dianggap paling merepresentasikan sosok kandidat presiden yang berlaga di Pilpres 2019.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby menuturkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi semacam itu bisa terjadi. Yang pertama, penyelenggaraan pemilu legislatif (pileg) dan pilpres secara serentak menimbulkan cable effect, yaitu menguatnya persepsi masyarakat terhadap partai-partai yang memiliki asosiai paling kuat terhadap capres.

“Dari survei kami, PDIP yang berasosiasi dengan Jokowi akan mendapatkan unsur elektoral dari pemilih Jokowi. Artinya, yang memilih Jokowi lebih besar memilih PDIP. Begitupun dengan partai-partai pengusung Prabowo, mereka yang memilih Prabowo–Sandi lebih besar kemungkinannya memilih Gerindra dibandingkan dengan partai lain karena faktor asosiasi,” ujar Adjie di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Dia menuturkan, hal berbeda bakal dialami Partai Golkar. Pada Pemilu 2019, elektabilitas parpol berlambang pohon beringin itu diprediksi menurun secara signifikan karena tidak menempatkan kader mereka sebagai calon presiden maupun calon presiden.

“Problem yang dialami Partai Golkar, karena tidak ada capres dan cawares, juga faktor sentimen negatif akibat dari kasus-kasus internal partai. Misalnya, kasus yang menjerat mantan ketua umum Setya Novanto, kemudian ada lagi yang terakhir kasus dugaan suap PLTU Riau-1. Itu semua menambah sentimen negatif publik terhadap Partai Golkar,” ucap Adjie.

Dia berpendapat, jika Golkar tidak mengimbangi sentimen negatif itu dengan isu-isu yang positif, bukan tidak mungkin suara partai pimpinan Airlangga Hartarto itu akan terus tergerus. Selain itu, kata Adjie, faktor leadership atau kepemimpinan di internal juga dapat memengaruhi perolehan suara Golkar di Pemilu 2019.

Jika PDIP dan Gerindra mempunyai sosok ketua umum sebagai tokoh yang punya modal kepemimpinan kuat, Golkar tidak demikian. “Sosok leadership ini penting karena dapat meminimalisasi konflik-konflik di internal partai, sehingga partai pun dapat fokus menghadapi pemilu. Di PDIP ada Megawati yang begitu kuat, kemudian di Gerindra ada Prabowo Subianto,” ujar Adjie.

Editor : Ahmad Islamy Jamil