Profil Ganjar Pranowo, Capres PDIP yang Diumumkan Langsung Megawati
JAKARTA, iNews.id - Ganjar Pranowo resmi diusung sebagai calon presiden atau capres 2024 oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pengumuman disampaikan langsung Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Ganjar sudah malang melintang di dunia politik dan pemerintah Tanah Air. Ganjar menjabat Gubernur Jawa Tengah selama dua periode sejak 2013. Namanya kerap ada di posisi teratas daftar kandidat capres dengan elektabilitas tinggi.
Ganjar lahir di Karanganyar pada 28 Oktober 1968. Dia merupakan anak kelima dari enam bersaudara, dari pasangan Parmuji Pramudi Wiryo dan Sri Suparmi.
Saudara kandungnya yaitu Pri Kuntadi, Pri Pambudi Teguh, Joko Prasetyo, Prasetyowati dan Nur Hidayati. Ayahnya berprofesi sebagai polisi dan sempat ditugaskan mengikuti operasi penumpasan PRRI atau Permesta.
Pernyataan Ganjar Ditunjuk Jadi Capres PDIP: Sebuah Kehormatan
Nama asli kader PDIP ini awalnya Ganjar Sungkowo yang artinya Ganjaran dari kesusahan atau kesedihan. Namun, ketika akan memasuki sekolah dasar, nama Sungkowo diganti menjadi Pranowo oleh orang tuanya.
Pergantian nama ini terjadi karena rasa ketakutan dari orang tua Ganjar jika nama Sungkowo tetap maka sang anak kelak selalu berkubang dengan kesialan dan kesusahan.
Sejak kecil, Ganjar telah menunjukkan jiwa kepemimpinannya. Hal tersebut terbukti ketika Ganjar sekolah dasar. Dia selalu terpilih menjadi ketua kelas. Saat akan memasuki SMP, keluarganya pindah ke Kutoarjo mengikuti tempat di mana ayahnya ditugaskan.
Ganjar melanjutkan studinya di SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Saat itu dia aktif mengikuti kegiatan kepramukaan atau Dewan Ambalan.
Menjelang lulus SMA pada 1980, ayahnya pensiun dari kedinasan Polri. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, ibunya membuka warung kelontong, sementara Ganjar juga membantu ibunya dengan berjualan bensin di pinggir jalan.
Setelah lulus SMA, Ganjar melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Universitas Gadjah Mada. Dia kemudian bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
Selama masa kuliah, Ganjar pernah cuti kuliah selama dua semester karena kesulitan biaya. Pada 1994 Ganjar bertemu dengan Siti Atikoh Supriyanti ketika sedang KKN di Temanggung, Jateng.
Atikoh merupakan seorang anak dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dari Purbalingga Jateng. Dalam latar belakang organisasi ini, keduanya memiliki latar belakang berbeda. Ganjar aktif di GMNI dan PDI sedangkan Atikoh punya latar belakang yang berafiliasi dengan NU dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Keduanya menikah pada 1999 dan dikaruniai satu orang anak laki-laki yang bernama Muhammad Zinedine Alam Ganjar. Zinedine lahir pada 2003 dan kini telah menempuh pendidikan menengah atas di SMAN 3 Semarang, Jateng.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Hukum UGM, Ganjar bekerja di lembaga konsultan HRD di salah satu perusahaan di Jakarta. Dia juga pernah bekerja di PT Prastawana Karya Samitra dan PT Semeru Realindo Inti.
Karier politik
Ganjar aktif di organisasi Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) dan mengagumi sosok Soekarno. Pada 1996, PDI dilanda konflik internal antara pendukung Soerjadi dan Megawati Soekarnoputri sebagai representasi dari sosok Bung Karno.
Ganjar berada di kubu Megawati, meski pada kenyataannya ayah Ganjar merupakan seorang polisi dan kakaknya merupakan seorang hakim yang oleh Orde Baru (Orba) dilarang berpolitik dan harus mendukung Golkar.
Pada akhirnya Ganjar memilih berkarier politik melalui PDIP yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.
Pada 2004, Ganjar mencalonkan sebagai anggota DPR tetapi tidak lolos. Ganjar kemudian menerima tugas sebagai pengganti antar waktu (PAW) untuk menggantikan rekan separtainya dari daerah pemilihan yang sama yaitu Jakob Tobing.
Jakob saat itu ditugaskan Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi Duta Besar (Dubes) untuk Korea Selatan. Saat menjadi anggota DPR periode 2004-2009, Ganjar ditugaskan di Komisi IV yang turut mengawasi bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan dan pangan.
Ganjar juga pernah ditempatkan di Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Partai Politik sebagai ketua. Pernah juga ditugaskan menjadi anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR dan Ketua Pansus tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD di DPR.
Pada periode kedua sebagai anggota DPR, Ganjar ditempatkan di Komisi II yang mengawasi bidang pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, reformasi birokrasi, pemilu, pertanahan dan reforma agraria.
Ganjar makin dikenal publik saat menjadi anggota Pansus Hak Angket Bank Century sekaligus Wakil Ketua Komisi II DPR. Saat itu Ganjar sebagai mahasiswa pascasarjana di FISIP UI sejak 2009 terpaksa cuti karena kesibukannya sebagai anggota DPR.
Meski demikian, Ganjar tetap melanjutkan studinya sampai mampu menyelesaikan pascasarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada 2013.
Selanjutnya Ganjar maju sebagai calon gubernur Jateng. Ganjar menggandeng Heru Sudjatmoko yang diusung PDIP. Ganjar dan Heru dikenal dengan jargon 'Mboten Korupsi Mboten Ngapusi' yang artinya tidak korupsi tidak membohongi.
Keduanya menjadi pemenang dengan perolehan suara mencapai 48,82 persen. Pada Jumat 23 Agustus 2013 dilaksanakan pelantikan Ganjar dan Heru oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di DPRD Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang.
Pilgub Jateng berikutnya, dia kembali maju berpasangan dengan Taj Yasin Maimoen yang merupakan anggota DPRD Jateng periode 2014-2019 dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kemenangan kembali berpihak pada Ganjar dengan perolehan suara 58,78 persen atau 10.362.694 suara. Ganjar dan Taj Yasin resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng periode 2018-2023.
Editor: Reza Fajri