Profil Nasirun, Maestro Seni Rupa Indonesia yang Meninggal Dunia di Usia 60 Tahun
JAKARTA, iNews.id – Dunia seni rupa Indonesia tengah berduka. Maestro seni lukis kontemporer Nasirunmeninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) di usia 60 tahun akibat henti jantung.
Kepergian seniman kelahiran Cilacap itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, hingga para pencinta seni. Nasirun bukan hanya dikenal sebagai pelukis dengan karakter karya yang kuat, tetapi juga sebagai sosok yang berhasil membawa budaya Jawa ke panggung seni rupa nasional dan internasional.
Tak heran, kabar wafatnya langsung memicu gelombang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan. Di sisi lain, siapa sebenarnya Nasirun? Simak informasinya hanya di artikel ini.

Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Ketertarikannya terhadap seni sudah muncul sejak muda hingga akhirnya memutuskan merantau ke Yogyakarta pada 1983.
Di Kota Gudeg, ia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta sebelum melanjutkan studi ke Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lingkungan seni Yogyakarta kemudian menjadi tempat yang membentuk karakter artistiknya hingga dikenal luas sebagai salah satu pelukis paling berpengaruh di Indonesia.
Selama lebih dari tiga dekade berkarya, Nasirun membangun identitas visual yang sangat mudah dikenali. Karya-karyanya memadukan unsur tradisional dengan pendekatan seni kontemporer.
Beberapa ciri khas lukisan Nasirun antara lain:
Gaya tersebut membuat karya Nasirun mudah dikenali sekaligus memiliki nilai artistik yang tinggi di mata kolektor maupun kurator seni.
Nama Nasirun mulai mencuri perhatian sejak akhir 1980-an. Seiring waktu, karya-karyanya dipamerkan di berbagai kota di Indonesia hingga luar negeri.
Lukisan-lukisannya pernah hadir dalam berbagai pameran di negara seperti:
Tak sedikit pula karya Nasirun yang menjadi koleksi galeri, museum, hingga kolektor seni internasional.
Di balik reputasinya sebagai maestro seni rupa, Nasirun justru dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan penuh kehangatan.
Sastrawan Agus Noor mengenangnya sebagai sosok yang dermawan, penyabar, dan tidak pernah menyimpan amarah kepada orang lain. Menurut Agus, Nasirun kerap mengucapkan kalimat yang kini menjadi kenangan bagi banyak sahabatnya.
Kesaksian serupa datang dari kurator senior Suwarno Wisetrotomo. Ia mengungkapkan bahwa sehari sebelum meninggal, wajah Nasirun memang terlihat pucat. Meski demikian, almarhum tetap melontarkan candaan agar orang-orang di sekitarnya tidak ikut mengkhawatirkan kondisinya.
Pelukis Jumaldi Alfi Chaniago pun mengaku baru bertemu dengannya sehari sebelum wafat. Saat itu, Nasirun masih tampak menyapu halaman rumah seperti biasa. Tak ada firasat bahwa pertemuan tersebut menjadi yang terakhir.

Menurut keterangan keluarga, kondisi kesehatan Nasirun memburuk pada Sabtu dini hari. Ya, sekitar pukul 02.00 WIB, Nasirun mengalami sesak napas.
Keluarga segera membawanya ke RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Meski telah mendapat penanganan medis, kondisinya terus menurun. Hingga akhirnya Nasirun meninggal dunia sekitar pukul 05.50 WIB akibat henti jantung.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul, yang menjadi tempat peristirahatan sejumlah seniman ternama Indonesia.
Kepergian Nasirun menjadi kehilangan yang begitu dalam bagi musisi Kunto Aji. Melalui unggahan di Instagram, pelantun 'Rehat' itu mengenang Nasirun sebagai sosok yang mengajarkannya bukan hanya tentang kesenian, tetapi juga cara menjalani hidup.
"Apa yang tidak kudapat dari bapakku, terutama soal kesenian, kudapat dari beliau. Kehidupan seperti apa yang ingin kujalani di masa tua nanti, dimanifestasi utuh di hidupnya," kata Kuntoaji, dikutip Minggu (2/8/2026).
Kunto Aji juga menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang mampu menghadapi tekanan hidup dengan humor.
"Situasi tegang dengan tekanan pun dihadapi dengan jenaka dan srimulatan. Semua terasa ringan. Aku yakin malaikat kematian pun kamu gojeki tadi, pak," ujarnya.
Unggahan itu ditutup dengan kalimat perpisahan yang menyentuh hati. "Sugeng tindak Pak Nasirun. Suwargi langgeng," tulis Kuntoaji.
Editor: Muhammad Sukardi