Rapid Test Bukan Acuan, Lakukan Ini jika Hasilnya Negatif
JAKARTA, iNews.id - Pelaksanaan tes cepat atau rapid test bukan satu-satunya acuan untuk mendeteksi seseorang terinfeksi virus corona (Covid-19). Rapid test bekerja berdasarkan respons imunologis.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, ketika virus masuk, tubuh akan membentuk antibodi. Proses inilah yang diukur atau dideteksi oleh alat tes cepat ini.
Dia menjelaskan, jika pemeriksaan rapid test menunjukkan hasil positif, hal ini berarti tubuh orang tersebut pernah diinfeksi oleh virus tersebut. Namun, jika menunjukkan negatif, bukan jaminan tidak terjangkit virus corona.
"Jika negatif tidak ada jaminan dia tidak terinfeksi virus, bisa saja sudah terinfeksi, tetapi antibodinya belum terbentuk. Pembentukan antibodi itu 6 sampai 7 hari. Jika belum segitu akan negatif," ujar Yuri dalam konferensi pers di Grha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (25/3/2020).
Menurut Yuri, ketika pemeriksaan, tenaga medis nantinya akan menanyakan ke orang yang negatif terkait keluhan dalam tubuhnya. Jika tidak ada keluhan, petugas medis akan meminta orang tersebut untuk melakukan social distancing ke lingkungan sekitar..
Caranya yakni dengan melakukan isolasi diri atau self isolation. Namun, tujuh hari setelahnya akan dicek kembali.
"Jika setelah tujuh hari hasilnya positif kita gunakan pemeriksaan antigen dengan real time PCR," tutur Yuri.
Selanjutnya, jika hasilnya kembali negatif, kata Yurianto, petugas medis akan meyakini kondisi orang tersebut tidak terinfeksi virus. Pasalnya, jika menghitung lamanya pertumbuhan antibodi untuk melawan virus, tujuh hari merupakan batas maksimal.
Jika tidak ada keluhan atau keluhan minimal, kata dia, petugas akan menyarankan karantina di rumah, bukan di rumah sakit dengan menggunakan masker 14 hari. Selain itu orang tersebut akan diminta menjaga jarak dengan seluruh anggota keluarga, serta tetap menjalankan pola hidup bersih.
Selama 14 hari itu petugas medis tetap akan melakukan pengawasan terhadap orang yang bersangkutan. Menurutnya, hasil dari monitor itu akan dikirimkan ke dinas kesehatan setempat.
Namun, jika hasil pemeriksaan dengan PCR menunjukkan positif, petugas medis akan melakukan tindakan lanjutan. Tindakan yang diambil yakni dengan melihat kembali kondisi orang tersebut apakah bisa melakukan isolasi secara mandiri atau harus dikirim ke rumah sakit.
"Jika positif dan diyakini tidak bisa isolasi diri di rumah karena gejala batuk, panas, dan sesak, atau kita temukan faktor penyakit lain, semisal hipertensi, ada beberapa hotel, termasuk Wisma Atlet untuk kepentingan ini (isolasi)," tuturnya.
Penentuan rumah sakit untuk karantina pun akan ditentukan. Menurutnya, andaikata pasien tersebut tergolong kasus sedang, petugas medis akan membawanya ke rumah sakit darurat.
Namun, jika termasuk kasus berat, petugas medis akan membawanya ke rumah sakit rujukan untuk penanganan lebih lanjut. "Di sana tentunya akan lebih intensif perawatannya," ucap Yuri.
Editor: Zen Teguh