JAKARTA, iNews.id - Nilai tukarrupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Selasa (6/10/2026). Mata uang garuda naik 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.899 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dengan dukungan serangan udara besar-besaran dari Saudi mencapai pinggiran kota Mocha pada Senin malam, sementara para petempur Houthi dilaporkan mundur ke wilayah dataran tinggi, menurut empat sumber pemerintah.
Loyo, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.917 per Dolar AS
“Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa kota tersebut telah berhasil direbut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Adapun, salah satu media asing tidak dapat memverifikasi secara independen sejauh mana keberhasilan pasukan pemerintah tersebut. Pihak Houthi, yang telah menguasai banyak wilayah berpenduduk padat di Yaman termasuk ibu kota Sanaa sejak tahun 2014, menyatakan bahwa klaim pemerintah yang didukung Saudi tersebut tidak berdasar.
Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.966 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Sementara itu, kelompok Houthi sendiri mencatat kemajuan penting di dekat Taiz kota terbesar ketiga di Yaman dengan menguasai sebagian jalan pegunungan yang membuat pasukan pemerintah terkepung, menurut lima sumber militer dari pihak pemerintah Yaman.
Namun, satu sumber pemerintah membantah bahwa akses jalan tersebut telah terputus. Selain itu, Houthi Yaman telah melancarkan serangan terhadap beberapa lokasi di Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, kilang Aramco di Rabigh, dan bandara Abha. Belum ada konfirmasi segera dari pihak Saudi.
Dari sentimen dalam negeri, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mencapai 5,2 persen.
“Proyeksi tersebut direvisi ke atas sebesar 0,5 poin persentase. Aktivitas ekonomi Indonesia juga ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi,” kata Ibrahim.
Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen bulan Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.
Meski demikian, Bank Dunia turut menyoroti bahwa aktivitas ekonomi domestik tampak melemah setelahnya, yang ditandai dengan turunnya indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada bulan Agustus dan melesunya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada bulan Juli. Di sisi lain, pelebaran defisit memicu kekhawatiran pasar atas tren fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings).
Sentimen pasar terhadap Indonesia sempat memburuk pada bulan Januari, yang kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global dan gangguan pengiriman. Arus modal keluar (portfolio outflows) tercatat mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I/2026.
Langkah pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar juga disebut mampu menekan kenaikan harga dan menahan tekanan inflasi, yang mana tingkat inflasi berhasil turun dari 4,8 persen pada bulan Februari menjadi 3,4 persen pada bulan Juli 2026.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.750-Rp18.030 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama