JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan, Selasa (1/9/2026). Rupiah turun 22 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Timur Tengah yang kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menyusul terjadinya saling serang secara langsung dan hal ini meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi.
413 Saham Menguat, IHSG Hari Ini Ditutup Melesat ke 6.525
“Upaya para mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk menengahi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang pecah pada akhir Februari sejauh ini belum membuahkan hasil yang berarti,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Adapun, Iran menutup jalur pelayaran tersebut setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada tanggal 28 Februari.
Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.722 per Dolar AS
Sebagai gambaran mengenai risiko yang masih mengancam pelayaran dan pasokan minyak, Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya (UKMTO) pada hari Selasa melaporkan adanya sebuah kapal tanker yang terkena tiga proyektil saat sedang berlayar keluar dari Selat Hormuz. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun dampak terhadap lingkungan.
Pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, di Simposium Jackson Hole, bernada hawkish yang memicu kembali ekspektasi bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September, serta mendorong lonjakan tajam pada nilai tukar Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.
Dari sentimen dalam negeri, kinerja manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tecermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.
“Penurunan PMI Manufaktur ke bawah ambang batas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya,” ucapnya.
S&P Global mencatat, pelemahan PMI manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi oleh kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Agustus 2026, setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,14 persen pada Juli 2026.
Pada Agustus 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 3,19 persen secara tahunan. Lalu, secara tahun kalender terjadi inflasi 1,86 persen (year to date). Kemudian terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Juli 2026 sebesar 120 juta dolar AS, usai sempat mengalami defisit pada Juni 2026 lalu sebesar 450 juta dolar AS.
Indonesia mencatatkan ekspor Juli 2026 mencapai 26,22 miliar dolar AS atau naik 6,05 persen jika dibandingkan Juli 2025 (YoY). Nilai ekspor migas tercatat mencapai 0,79 miliar dolar AS atau turun 14,58 persen, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 6,84 persen dengan nilai pada Juli 2026 sebesar 25,45 miliar dolar AS.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.740-Rp17.790 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama