Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perkasa, Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp17.694 per Dolar AS
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Menguat 0,75 Persen dalam Sepekan, Ini Pendorongnya

Minggu, 23 Agustus 2026 - 06:42:00 WIB
Rupiah Menguat 0,75 Persen dalam Sepekan, Ini Pendorongnya
Nilai tukar rupiah menguat 0,75 persen terhadap dolar AS sepanjang pekan ini. (Foto: Ilustrasi/iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah mencatatkan tren positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (21/8/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat 0,75 persen secara mingguan dari posisi awal pekan sebesar Rp17.827 menjadi Rp17.694 per dolar AS dan secara harian menguat 0,3 persen.

Penguatan serupa tecermin pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Rupiah Jisdor mencatatkan penguatan sepekan sebesar 0,73 persen ke level Rp17.705 per dolar AS, dari posisi akhir pekan sebelumnya di level Rp17.836 per dolar AS. Secara harian, kurs Jisdor menguat 0,42 persen.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan, katalis utama yang menopang pergerakan rupiah sepekan terakhir dipengaruhi oleh kebijakan Departemen Keuangan AS yang melipatgandakan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah atau US Treasury berjangka panjang.

Departemen Keuangan AS berencana mematok nilai buyback sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi pada kuartal mendatang untuk menekan imbal hasil (yield) obligasi tenor panjang.

“Dan pemerintah dapat meningkatkan pembelian tersebut lebih lanjut dan berpendapat bahwa tingkat imbal hasil saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya,” ujar Ibrahim, Jumat (21/8/2026).

Di sisi lain, penurunan klaim tunjangan pengangguran mingguan menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil, meski sempat terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja pada Juli. Hal ini membuat Bank Sentral AS (The Fed) tetap mencermati stabilitas inflasi di tengah perdebatan pasar terkait arah suku bunga acuan.

Dari dalam negeri, pergerakan mata uang domestik dibayangi oleh pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuartal II 2026 yang dirilis Bank Indonesia sebesar 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen terhadap PDB, naik dari kuartal sebelumnya yang sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0 persen PDB).

“Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi,” tuturnya.

Ibrahim menambahkan, kenaikan defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya impor dan harga minyak dunia, ditambah risiko inflasi pangan imbas kekeringan El Nino, menjadi kewaspadaan tambahan bagi pelaku pasar.

Mempertimbangkan kalkulasi sentimen global dan domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan kurs rupiah pada pekan depan akan berada dalam rentang kisaran Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut