Said Aqil: Kebangkitan Umat Dimulai dari Penguatan Iman yang Hakiki
JAKARTA, iNews.id - Mantan Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj menilai semaraknya syiar Islam belum sepenuhnya berdampak pada perbaikan moral masyarakat. Menurutnya, kebangkitan umat tidak hanya melalui simbol keagamaan tetapi penguatan iman yang melahirkan akhlak, kejujuran, dan integritas.
Pesan tersebut disampaikan dalam tausiahnya pada acara Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan Semarak Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang diselenggarakan oleh Komisi Dakwah MUI dan Majelis Rasulullah dan INews TV, Sabtu (4/7/2026).
Ia mengajak umat Islam melakukan refleksi terhadap kondisi bangsa saat ini. Menurutnya, kehidupan keagamaan tampak semakin semarak dengan berbagai kegiatan syiar Islam, pembangunan masjid, majelis taklim, serta berbagai aktivitas dakwah.
"Hari ini syiar Islam begitu semarak, tetapi kemaksiatan juga semakin marak. Korupsi masih merajalela, ketidakjujuran masih banyak terjadi, dan berbagai penyimpangan moral masih menjadi persoalan bangsa. Ini menjadi bahan renungan bagi kita semua," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa syiar yang berkembang sering kali masih bersifat simbolik dan belum sepenuhnya melahirkan transformasi moral yang nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga menjelaskan akar persoalannya terletak pada kualitas keimanan. Iman tidak cukup hanya diucapkan melalui dua kalimat syahadat, tetapi harus bersemayam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
"Iman bukan sekadar di bibir dengan mengucapkan syahadat. Iman harus masuk ke dalam hati, menghidupkan kesadaran, membentuk akhlak, dan melahirkan amal saleh," tegasnya.
Lebih lanjut, Said Aqil menjelaskan qalb (hati) memiliki beberapa tingkatan yang menggambarkan kedalaman spiritual seseorang.
Tingkatan pertama adalah bashirah, yaitu penglihatan batin yang membuat seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang baik dan yang buruk. Bashirah menjadi cahaya hati yang membimbing manusia dalam mengambil keputusan yang benar.
Tingkatan berikutnya adalah dhamir atau hati nurani. Pada tingkat ini, hati tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga mendorong seseorang untuk melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.
Menurut dia, dhamir merupakan pusat kesadaran moral yang mengarahkan manusia agar hidup sesuai dengan nilai-nilai agama, etika, dan kemanusiaan.
Said Aqil juga menjelaskan hati nurani memiliki beberapa dimensi, di antaranya dhamir dini (kesadaran keagamaan), dhamir qanuni (kesadaran hukum), serta dimensi moral yang menjadi pengawas batin dalam setiap tindakan manusia.
Adapun tingkatan yang lebih dalam adalah fuad, yaitu hati yang paling jujur. Fuad tidak dapat berdusta terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau dosa, fuad akan menghadirkan kegelisahan, penyesalan, dan dorongan untuk kembali kepada jalan Allah.
Sebaliknya, hati yang terus-menerus mengabaikan suara fuad akan semakin keras dan kehilangan kepekaan terhadap kebenaran. Oleh karena itu, pembinaan iman harus diarahkan pada penguatan dimensi batin tersebut agar syiar Islam tidak berhenti pada aspek seremonial dan simbolik semata.
"Syiar yang kita bangun jangan hanya bersifat simbolik. Yang dibutuhkan umat adalah syiar yang hakiki, yaitu syiar yang mampu membentuk akhlak, kejujuran, amanah, serta melahirkan masyarakat yang berintegritas," ujarnya.
Said Aqil pun mengajak seluruh umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum hijrah batin, memperkuat iman, membersihkan hati, serta membangun integritas pribadi sehingga lahir masyarakat yang religius, jujur, adil, dan berakhlak mulia.
Editor: Puti Aini Yasmin