Sidik Jari Korban Insiden Ponpes di Sidoarjo, Tim DVI Kesulitan Identifikasi Jenazah
SIDOARJO, iNews.id - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur (Jatim) menghadapi kendala dalam proses identifikasi jenazah korban ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jatim. Hingga saat ini, delapan jenazah telah diterima di RS Bhayangkara Surabaya.
Karodokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol dr Nyoman Eddy Purnama mengatakan, lima di antaranya telah diperiksa, sementara tiga lainnya masih menunggu proses identifikasi.
Dia menjelaskan, tim medis tengah melakukan rekonsiliasi data antara hasil pemeriksaan dan informasi dari keluarga korban. Namun, kondisi jenazah yang semakin rusak seiring waktu dinilai menjadi hambatan utama.
Menurutnya, identifikasi jenazah dilakukan melalui dua metode, primer dan sekunder. Metode primer meliputi sidik jari, gigi dan DNA.
Sayangnya, sebagian besar sidik jari korban sudah rusak, terutama pada jenazah anak-anak berusia 12–13 tahun yang belum memiliki data biometrik di database nasional. Sementara itu, identifikasi melalui gigi juga tidak memberikan hasil signifikan.
"Gigi geligi mereka tidak khas karena rata-rata masih muda. Biasanya kami bisa mencocokkan dengan foto meringis dari keluarga, tapi data seperti itu juga sulit kami dapatkan," ujar Brigjen Nyoman.
Dia menuturkan, metode sekunder seperti tanda lahir dan properti pribadi juga tidak banyak membantu. Pakaian yang dikenakan korban umumnya seragam-berwarna putih dan mengenakan sarung sehingga menyulitkan proses pencocokan visual.
Dia berharap keluarga dapat memberikan informasi tambahan seperti foto atau ciri khas lain yang bisa mempercepat identifikasi. Sebagai langkah lanjutan, tim telah mengambil sampel DNA dari jenazah untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Editor: Kurnia Illahi