Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Gelar Sakinah Funwalk di Semarang, Kemenag Gencarkan GAS Nikah
Advertisement . Scroll to see content

Soroti Tren Tunda Nikah, Menag: Nikah Fest Harus Diperluas untuk Bangun Peradaban

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:32:00 WIB
Soroti Tren Tunda Nikah, Menag: Nikah Fest Harus Diperluas untuk Bangun Peradaban
Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong Bimas Imas memperluas jangkauan Nikah Fest untuk melawan tren menunda pernikahan di kalangan generasi muda. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idMenteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyoroti fenomena global generasi muda yang cenderung menunda pernikahan hingga usia tidak produktif. Karena itu, Menag meminta jajarannya untuk memperluas program strategis seperti Nikah Fest sebagai pendekatan yang lebih adaptif bagi anak muda.

Arahan tersebut disampaikan Menag dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Menag menilai tren menunda perkawinan bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan tantangan pembangunan sosial. Ia mencontohkan negara-negara maju yang kini menghadapi krisis regenerasi akibat penurunan minat menikah di kalangan pemuda.

“Sekarang muncul fenomena global, orang tidak akan kawin atau akan menunda perkawinannya sampai ke usia yang justru tidak produktif. Kita tidak bisa hanya menasihati, tapi harus menghadirkan program yang menyentuh realitas mereka,” ujar Nasaruddin Umar.

Menurutnya, negara perlu hadir melalui program afirmatif yang mendorong keberanian generasi muda membangun keluarga tanpa mengabaikan kualitas.

Menag menilai, perkawinan tetap memiliki posisi penting dalam pembangunan sosial dan ketahanan keluarga. “Perkawinan itu bukan sekadar urusan pribadi, tapi juga bagian dari ikhtiar membangun peradaban,” ujarnya.

Menag menyampaikan, data menunjukkan adanya peningkatan angka perkawinan sebesar 0,3 persen pada 2025 sebagai dampak dari program Gas Nikah. Meski demikian, ia menilai capaian tersebut belum ideal. “Masih ada peningkatan, tetapi ini juga menjadi sinyal bahwa kita harus bekerja lebih keras,” kata Menag.

Menurutnya, tren menunda perkawinan merupakan fenomena global yang juga mulai terasa di Indonesia. Ia mencontohkan pengalaman sejumlah negara maju yang menghadapi penurunan minat menikah di kalangan generasi mudanya. 

“Sekarang muncul fenomena global, orang tidak akan kawin atau akan menunda perkawinannya sampai ke usia-usia yang justru tidak produktif,” ujarnya.

Menag menilai perubahan pola pikir generasi muda perlu direspons dengan pendekatan yang lebih adaptif dan persuasif. Karena itu, Nikah Fest dinilai relevan sebagai ruang edukasi, afirmasi, dan pendampingan yang ramah bagi anak muda. “Kita tidak bisa hanya menasihati, tapi harus menghadirkan program yang menyentuh realitas mereka,” katanya.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut