Tertarik Masuk Sekolah Homogen? Ini Lho Deretan Manfaat yang Bisa Diperoleh!
JAKARTA, iNews.id - Sekolah homogen memiliki sistem yang berbeda daripada sekolah reguler pada umumnya. Sebab, siswa di sekolah ini hanya terdiri dari satu jenis saja, antara laki-laki atau perempuan.
Biasanya, sekolah yang menerapkan sistem ini adalah asrama atau pesantren. Nah, seperti apa sih sekolah homogen sebenarnya dan apa saja manfaatnya? Simak di sini.
Biasanya sekolah dengan sistem homogen, mengedepankan nilai keagamaan dalam mata pelajarannya. Tak heran, para orang tua di Indonesia mempercayakan anaknya menuntut ilmu di sekolah ini.
Salah satu sekolah yang menerapkan sistem homogen adalah Pesantren Madinatul Qur'an di kawasan Cilodong, Depok, Jawa Barat. Pesantren ini khusus untuk mendidik anak laki-laki mulai dari tingkat SMP hingga SMA.
Mengenal Deretan Manfaat Sekolah Alam bagi Anak dan Biayanya
Berdiri sejak 2011, pesantren ini yang dulunya khusus untuk laki-laki. Namun, saat ini santriwati juga dididik di sini, khusus tingkat SMP.
Di sekolah ini, siswa dan siswi tidak hanya dididik soal keagamaan saja, tetapi juga bagaimana mereka hidup mandiri sejak dini saat dititipkan oleh orang tuanya.
4 Sekolah Unggulan yang Pendirinya Tokoh Indonesia, Nomor 3 Milik Luhut Binsar Pandjaitan
"Di sini kita carikan lagi orang tua untuk santri (pembimbing). Mereka lah yang keseharian dengan para santri," ujar Direktur Pesantren Madinatul Qur'an, Ustadz Yusuf Salmon kepada MPI dan ditulis Rabu (13/7/2022).
Seperti pesantren lainnya, Ustadz Yusuf menerapkan sistem hafalan Alquran kepada siswanya. Mereka ditargetkan untuk menghafal 15 Juz di tingkat SMP dan SMA.
"Kita pun merencanakan apa yang dibutuhkan oleh anak sekarang. Kesulitan orang tua yang anaknya hanya main gadget dan televisi saja itu menjadi problem sekarang. Di sini kita giring anak-anak menjadi yang mandiri dan terarah," katanya.
Dalam sekolah ini, Ustadz Yusuf terus memberikan ajaran serta contoh yang baik kepada siswa pesantren, seperti contoh kemandirian dan keterampilan memelihara barangnya. Anak akan diatur waktu tidur, belajar hingga bermain.
"Kapan waktu tidur, kapan waktu belajar, kapan waktu main, mereka sudah kami buatkan jadwalnya, jadi mereka tahu jadwal mereka. Itu salah satu contoh kemandirian yang ada di pesantren," tutur dia.
Dari situ, kata Ustadz Yusuf, anak-anak akan belajar hal-hal mandiri, seperti melipat baju hingga mencuci baju.
"Anak-anak itu di rumah ada bapak, ibu, dan pembantunya. Mereka nggak pernah mikir untuk hal simpel ya, menyusun baju di lemari. Mereka di sini punya lemari sendiri. Kita ajarkan siswa harus merapikan baju sendiri, tau kapan jadwal nyuci baju. Itu contoh keterampilan yang sederhana," ucap dia.
Selain kemandirian dan keterampilan, Ustadz Yusuf juga mengajarkan siswa sebaik mungkin cara menggunakan uang dengan baik ketika jajan di sekolah.
Uniknya, sistem pembayaran di pesantren ini tidak menggunakan uang cash sama sekali. Mereka diajarkan memakai kartu (cashless) untuk jajan sehari-hari. Disitulah Ustadz Yusuf mengajarkan cara mengatur uang kepada siswa, sehingga hidupnya tidak boros.
"Uang jajan biasanya kita terima dari orang tua berupa transfer. Nah di situlah kami bagi dan mengatur uang jajan mereka. Kita nggak bisa berikan semua, agar tidak terjadi pemborosan dan ketidaksamaan dengan siswa lain," ujar dia.
Dalam segi pendidikan, Pesantren Madinatul Qur'an tidak hanya mengajarkan materi agama saja kata Ustadz Yusuf. Pendidikan kurikulum, organisasi, serta cinta masyarakat pun tidak dihilangkan dalam sistem pengajaran di sini.
"Tidak hanya agama terus yang kami ajarkan. Kami juga menargetkan, misal anak SMA untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri sehingga bisa meneruskan cita-citanya masing-masing. Agama yang kita ajarkan bisa dikatakan sebagai pondasi mereka untuk menjalani hidup," kata dia.
Menurut dia, ilmu yang diajarkan di sekolah homogen, seperti kemandirian dan agama akan membantunya saat duduk di bangku perguruan tinggi.
"Kami jadikan anak-anak ini baik akhlaknya, hormat kepada guru dan orang tuanya, paham dengan negaranya, kita tidak pernah mengajarkan radikalisme, sehingga kita bukti mencintai masyarakat," ucap dia.
Selain itu, pendidikan organisasi juga diterapkan oleh anak-anak khususnya di pesantren. Sangat disayangkan menurutnya jika pendidikan organisasi tidak diberikan karena bisa memengaruhi sifat leadershipnya.
"Kalau sudah menjadi santri, kita didik organisasi dan manajemen, Insya Allah anak itu kelak akan menjadi leader yang berpengaruh, sehingga anak-anak yang kita didik, kita gali potensi nya untuk menjadi orang sukses di bidangnya masing-masing," tuturnya.
Salah satu orang tua murid yang menyekolahkan anaknya di Pesantren Madinatul Qur'an, Syahdi mengaku alasannya memasukan anaknya ke sekolah homogen adalah biar mendapat pendidikan yang berkualitas.
"Saya ingin anak saya lebih baik dengan seumurannya. Apalagi zaman sekarang, anak-anak mudah terhasut oleh gadget," ucapnya kepada MPI.
Apalagi menurutnya, gangguan dari gadget sebagai arus informasi deras menjadi masalah gangguan utama terhadap anak. Dengan dididik di Pesantren, anak diharapkan lebih tertata dengan baik hidupnya.
"Mereka tahu day to day-nya harus ngapain saja, lebih tertata lah, mainnya tanpa gadget, belajar juga lebih tertata, ibadahnya juga tidak terganggu," tutup dia.
Editor: Puti Aini Yasmin