Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo Resmikan BBM Baru B50: Indonesia Negara Pertama yang Menerapkan
Advertisement . Scroll to see content

Tiga Hari Berturut-turut Kasus Harian Covid-19 Tembus 8.000 Orang, Ini Kata Epidemiolog

Sabtu, 02 Januari 2021 - 06:00:00 WIB
Tiga Hari Berturut-turut Kasus Harian Covid-19 Tembus 8.000 Orang, Ini Kata Epidemiolog
Epidemiolog menyarankan pemerintah semakin menggencarkan testing Covid-19. (Foto: iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus harian covid-19 mengalami penambahan 8.072 pasien positif pada Jumat (1/1/2021). Dengan begitu selama tiga hari berturut-turut kasus harian covid-19 menembus 8.000 orang.

Tercatat, pada Rabu (30/12/2020) kasus harian covid-19 menyentuh angka 8.002 orang, lalu keesokan harinya pada Kamis, (31/12/2020, penambahan kasus harian Covid-19 tercatat mencapai 8.074 kasus. Melihat hal itu, Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyebut angka di atas masih jauh dari estimasi kasus harian covid-19 yang ada di Indonesia.

"Angka positif 8.000-an itu belum sampai sepertiga dari estimasi kasus harian terendah di Indonesia. Hal itu bisa terjadi akibat rendahnya kapasitas testing. Saat ini estimasi kasus harian covid-19 di Indonesia hampir 40.000-an per hari. Jadi ya, mau 10.000 ini kan belum setengahnya. Ini pekerjaan rumahnya," kata Dicky saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (2/1/2021). 

Dia menyarankan agar pemerintah bisa memperbanyak kapasitas testing Covid-19. Artinya, kalau kapasitas testing tidak diperbanyak maka orang-orang yang terinfeksi terutama orang tanpa gejala (OTG) akan sangat leluasa melakukan penyebaran.

Dia pun menyebut tingginya angka positivity rate menunjukkan bahwa penanganan pandemi Covid-19 tidak berjalan maksimal, dan cenderung tidak terkendali. Menurutnya, dalam tiga bulan pertama di tahun 2021 ini adalah masa-masa yang menentukan bagaimana pola penanganan pandemi selanjutnya.

"Kalau kita masih tergagap, masih belum optimal dalam komitmen penguatan strategi, tracing, testing, isolasi karantina, dan penguatan 5M maka kondisinya akan semakin memburuk," tuturnya.

Selain itu, jika pandemi ini dibiarkan, maka hal terburuknya akan terjadi mutasi virus. Mutasi Covid-19 ini, kata dia, telah terjadi lebih dulu di beberapa negara, seperti Afrika Selatan, Inggris, dan China.

"Misalnya infeksi ini dibiarkan seperti tidak terkendali maka akan menjadi ladang subur terjadinya mutasi virus. Kejadian di UK, Afrika Selatan, dan China bisa terjadi juga ya di Indonesia. Itu saya tegaskan, bukan satu hal yang tidak mungkin karena virus ini memiliki pola yang sama dalam berevolusi dalam beradaptasi, dan bereplikasi," katanya.

Menurutnya situasi terburuk yaitu mutasi Covid-19 kemungkinan sudah masuk ke Indonesia sejak bulan September 2020. Hal itu dikarenakan longgarnya sistem perbatasan Indonesia lantaran tidak mewajibkan pendatang melakukan karantina dan tidak melakukan pemantauan dengan ketat. 

"Artinya ini bukanlah hal yang mengagetkan, kalaupun ketemu kasus 20.000 sekalipun ya saya tidak akan kaget. Itupun kan baru setengahnya dari estimasi 40.000 kasus. Ini ya yang harya kita sadari bahwa situasinya sangat serius," ujarnya.

Berikut data terbaru kasus harian Covid-19 yang ada di Indonesia pada Jumat (1/1/2021) per pukul 12.00 WIB:

Kasus positif: 8.072 orang total 751.270 orang. 
Sembuh: 6.839 orang total 617.936 orang
Meninggal: 191 orang total 22.329 orang.
Suspek Covid-19: 68.418 orang.

Editor: Rizal Bomantama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut