Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kabar Duka, Seniman Susilo Nugroho Si Den Baguse Ngarso Meninggal Dunia
Advertisement . Scroll to see content

Tokoh Pers Aceh Sjamsul Kahar Wafat, Ayah Wamenkomdigi Nezar Patria

Kamis, 24 September 2026 - 11:28:00 WIB
Tokoh Pers Aceh Sjamsul Kahar Wafat, Ayah Wamenkomdigi Nezar Patria
Sjamsul Kahar, pendiri Harian Serambi Indonesia dan mantan Ketua PWI Aceh tiga periode, meninggal dunia pada Kamis (24/9/2026). (Foto: Komdigi)
Advertisement . Scroll to see content

BANDA ACEH, iNews.id - Dunia pers Aceh kembali kehilangan salah satu tokoh penting. H Sjamsul Kahar, wartawan senior, pendiri Harian Serambi Indonesia, sekaligus mantan Ketua PWI Aceh tiga periode, meninggal dunia pada Kamis (24/9/2026) pukul 02.20 WIB.

Sjamsul Kahar mengembuskan napas terakhir di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh. Almarhum merupakan ayahanda Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria.

Sjamsul Kahar lahir di Sigli pada 9 Oktober 1945. Dia mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia jurnalistik dan perkembangan pers di Aceh.

Namanya pun tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Harian Serambi Indonesia.

Bersama M Nourhalidyn, Sjamsul Kahar mengembangkan Mimbar Swadaya hingga menjadi Harian Serambi Indonesia yang terbit perdana pada 9 Februari 1989. Sebelumnya, dia dikenal sebagai wartawan Kompas yang bertugas di Aceh dan kemudian dipercaya menjadi pemimpin redaksi Serambi Indonesia.

Di bawah kiprahnya, Serambi Indonesia berkembang menjadi salah satu ruang informasi penting bagi masyarakat Aceh. Berbagai persoalan daerah, mulai sosial, politik, ekonomi, budaya hingga peristiwa kemanusiaan, menjadi bagian dari pemberitaan media tersebut.

Perjalanan Sjamsul Kahar sebagai wartawan berlangsung di tengah situasi sulit. Ketika konflik Aceh terjadi, aktivitas jurnalistik menghadapi berbagai tekanan dan ancaman.

Pada 1999, rumah Sjamsul Kahar bahkan diserang bom molotov. Dia juga pernah menerima ancaman kematian terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia.

Namun, salah satu babak paling penting dalam perjalanan Sjamsul Kahar terjadi ketika tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana tersebut menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia serta menyebabkan puluhan pekerja media menjadi korban atau hilang.

Serambi Indonesia sempat berhenti terbit. Namun, Sjamsul Kahar bersama rekan-rekannya berupaya menghidupkan kembali surat kabar tersebut di tengah keterbatasan.

Enam hari setelah tsunami, tepatnya 1 Januari 2005, Serambi Indonesia kembali terbit. Surat kabar tersebut dicetak menggunakan mesin di Lhokseumawe dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Kembalinya Serambi Indonesia menjadi penting bagi masyarakat Aceh yang saat itu tengah menghadapi situasi pascatsunami. Informasi mengenai kondisi daerah, pencarian anggota keluarga, hingga perkembangan proses pemulihan kembali tersedia bagi masyarakat.

Selain membangun Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar juga memiliki rekam jejak panjang di organisasi profesi wartawan. Dia dipercaya memimpin PWI Aceh selama tiga periode, yakni 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1999.

Pada masa kepemimpinannya, kelembagaan PWI Aceh turut berkembang. Salah satunya melalui pembangunan gedung PWI Aceh di Jalan T Angkasah, Banda Aceh.

Perhatian Sjamsul Kahar terhadap sejarah pers juga tetap terlihat hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya. Pada 2023, saat PWI Aceh menampilkan sejarah perjalanan organisasi dalam Pekan Kebudayaan Aceh, dia mengingatkan pentingnya sejarah pers dikenalkan kepada masyarakat dan generasi muda.

Jejak Sjamsul Kahar tidak hanya tercatat melalui jabatan yang pernah diembannya. Dia merupakan bagian dari generasi yang menjalankan tugas jurnalistik ketika Aceh berada dalam situasi konflik hingga menghadapi bencana tsunami yang menghancurkan berbagai sendi kehidupan.

Keputusan untuk menerbitkan kembali Serambi Indonesia enam hari setelah tsunami menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pers Aceh. Saat masyarakat membutuhkan kabar dan informasi di tengah situasi penuh ketidakpastian, media tersebut kembali hadir.

Bagi keluarga, Sjamsul Kahar adalah seorang ayah. Bagi insan pers, ia merupakan bagian dari generasi yang ikut membangun fondasi jurnalistik Aceh.

Sementara bagi masyarakat Aceh, namanya akan terus terkait dengan perjalanan Serambi Indonesia dan sejarah pers di provinsi tersebut.

Kepergian Sjamsul Kahar meninggalkan duka bagi keluarga dan komunitas pers Aceh. Namun, kiprahnya selama puluhan tahun akan tetap menjadi bagian dari sejarah perkembangan jurnalistik di Aceh.

Editor: Donald Karouw

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut