Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BNPB Wanti-Wanti Potensi Karhutla Besar pada 2027
Advertisement . Scroll to see content

Vaksin Bermanfaat Besar Lindungi Masyarakat

Jumat, 02 Oktober 2020 - 21:59:00 WIB
Vaksin Bermanfaat Besar Lindungi Masyarakat
Communication for Development Specialist Unicef Indonesia Rizky Ika Syafitri (Foto: BNPB)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Masyarakat tidak perlu takut melakukan vaksinasi, karena vaksinasi atau imunisasi telah dikenal sejak abad ke-18 di dunia. Vaksin telah terbukti mampu serta memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam melindungi manusia dari berbagai macam penyakit.

Salah satu contoh keberhasilan vaksin adalah pencegahan penularan penyakit cacar di era 1980-an. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Ditjen P2P Kementerian Kesehatan drg R Vensya Sitohang M Epid menyatakan pembuatan vaksin sangat diawasi sehingga dipastikan aman.

”Jangan takut imunisasi, karena kualitas terjaga dan tentunya dari mulai registrasi hingga pembuatan terjaga. Dikawal juga oleh WHO (badan kesehatan dunia) dan tentunya pelaksanaan di Indonesia juga dikawal Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)," kata Venya di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), dan disiarkan melalui kanal YouTube FMB9, Kamis (1/10/20).

Berbagai macam penyakit telah tersedia vaksinnya, mulai dari cacar, polio, TBC, pneumonia, tetanus, campak, rubella, Hepatitis B, difteri, japanese enchephalitis, pertusis, dan terbaru kanker mulut rahim.

Termasuk tetanus ibu melahirkan dan bagi baru lahir yang sudah berhasil dihilangkan pada 2016 lalu. Juga ada penyakit maternal dan neonatal.

"Pengembangan vaksinasi ini tidak pernah berhenti. Oleh karena itu dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan, agar semua yang menjadi sasaran imunisasi, bisa mendapatkan haknya dan mendapatkan imunisasi agar terhindar dari penyakit yang dapat di cegah melalui imunisasi," ujar Venya.

Untuk mengatur penyediaan vaksin pemerintah sudah menyiapkan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dimana mengatur setiap anak berhak mendapatkan imunisasi dasar sesuai ketentuan untuk mencegah terjadi penyakit yang dihindari melalui imunisasi. Melalui Permenkes No 12 Tahun 2017 pemerintah akan menyediakan dan mendistribusikan semua logistik yang berhubungan dengan imunisasinya mulai vaksinnya, alat suntiknya, safety box dan sebagainya.

Khusus vaksin Covid-19 sejauh ini pemerintah menyiapkan roadmap agar vaksin tersedia tepat waktu.

“Untuk jangka pendek Pemerintah telah melakukan diplomasi dengan berbagai pihak dalam penyediaan vaksin., sementara jangka panjang dilakukan pengembangan vaksin Merah Putih, produksi dalam negeri," kata Vensya.

Terkait vaksinasi pada anak, Ketua Bidang Humas dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Hartono Gunadi menyatakan edukasi untuk orang tua sangat penting. Dengan memahami fungsi vaksin, masyarakat tidak akan resah.

”Perlu edukasi para orang tua agar memiliki pemahaman terhadap imunisasi, tanpa takut anaknya akan tertular penyakit-penyakit infeksi berbahaya yang harusnya bisa dicegah dengan imunisasi. Orang tua perlu paham, menerima dan mempunyai sikap yang baik terhadap imunisasi," kata Hartono.

Salah satu pemahaman yang salah adalah demam yang timbul setelah seorang anak yang sehat diimunisasi. Akibanya berkembang anggapan bahwa imunisasi itu berbahaya. Padahal hanya satu persen dari 100 persen jumlah anak yang diimunisasi yang kemungkinan menderita demam.

"Efek sampingnya itu sangat ringan bersifat sementara dan dapat hilang dengan pengobatan sederhana dibandingkan komplikasi yang dapat ditimbulkan bila anak tidak mempunyai kekebalan," kata Hartono.

Sebagai contoh imunisasi pentavalen yang tidak diberikan, maka seorang anak bisa kena difteri, tetanus, batuk 100 hari termasuk radang paru-paru yang menjadi penyebab kematian nomor satu pada anak dibawah 5 tahun.

Untuk efek samping vaksin atau yang dikenal dengan kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI), terbagi dua. Ada yang KIPI umum atau sistemik seperti demam, nafsu makan menurun, lemas atau rewel yang paling sering.

Itu dikatakannya hanya bersifat sementara dan hilang dalam 1 atau 2 hari. Lalu ada lagi KIPI lokal seperti bekas suntik akan menyebabkan pegal, bengkak atau kemerahan yang akan hilang hanya dalam beberapa hari kedepan. Dia meminta para orang tua tidak panik dan takut untuk imunisasi.

Sementara itu, Communication for Development Specialist Unicef Indonesia Rizky Ika Syafitri menyatakan Indonesia sudah 30 tahun menggelar imunisasi. Imunisasi terbukti menyelematkan banyak orang.

”Indonesia sendiri sudah 30 tahun lebih melaksanakan program imunisasi. Di dunia bahkan sudah lebih lama lagi dan terbukti vaksin menyelamatkan jutaan anak dari kematian, kesakitan dan kecacatan," kata Rizky.

Rizky menuturkan dalam memberikan imunisasi terhadap masyarakat banyak tantangan yang dihadapi. Seperti ada masyarakat yang tidak tahu bahwa imunisasi itu penting. Lalu banyak sekali berita bohong atau hoaks terkait imunisasi. "Pemerintah bersama Unicef dan lembaga lainnya berusaha menjawab berbagai misinformasi dan berita bohong terkait imunisasi," ujar Rizky. (CM)

Editor: Muhammad Fida Ul Haq

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut