BMW Pekerjakan Robot Humanoid di Pabrik Perakitan Baterai, Kerja Tanpa Istirahat dan Dibayar
JAKARTA, iNews.id – BMW akan memanfaatkan robot humanoid sebagai pekerja di pabrik perakitan baterai tanpa istirahat atau dibayar. Teknologi ini akan diterapkan di pabrik BMW di Leipzig, Jerman, sebagai bagian dari proyek percontohan terbaru dalam memanfaatkan robot humanoid di industri otomotif.
BMW akan mengerahkan robot humanoid tersebut untuk merakit komponen dan baterai tegangan tinggi. Penggunaan robot ini menjadi langkah lanjutan setelah sebelumnya perusahaan melakukan uji coba serupa di pabrik mereka di Spartanburg, Carolina Selatan, Amerika Serikat (AS).
Teknologi ini disebut BMW sebagai “Physical AI”, yaitu robot yang mampu berinteraksi langsung dengan lingkungan produksi layaknya pekerja manusia. Untuk proyek di Leipzig, BMW bekerja sama dengan perusahaan teknologi industri Hexagon yang mengembangkan robot humanoid bernama AEON.
Dilansir dari Carscoops, Robot AEON pertama kali diperkenalkan Hexagon pada Juni tahun lalu. Setelah peluncuran itu, BMW dan Hexagon langsung melakukan evaluasi teoritis serta pengujian di laboratorium untuk memastikan robot mampu bekerja di lingkungan pabrik otomotif.
Tahap berikutnya adalah uji coba awal di fasilitas BMW Leipzig pada Desember lalu. Pengujian tersebut menjadi langkah awal sebelum perusahaan melanjutkan pengujian lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada April mendatang.
Setelah itu, proyek akan memasuki fase uji coba penuh yang direncanakan dimulai pada musim panas tahun ini. BMW menyebut pengujian tersebut berfokus pada kemampuan robot menjalankan berbagai tugas secara multifungsi di jalur produksi.
Dalam tahap awal, robot humanoid AEON akan digunakan untuk merakit komponen kendaraan serta baterai tegangan tinggi yang menjadi bagian penting kendaraan listrik.
Eksperimen robot humanoid BMW sebenarnya sudah dimulai lebih dulu melalui kerja sama dengan perusahaan teknologi robotik Figure AI. Dalam proyek tersebut, BMW menggunakan robot humanoid bernama Figure 02 di pabrik Spartanburg.
Robot tersebut bekerja selama 10 jam per shift dan beroperasi lima hari dalam seminggu selama sekitar 10 bulan. Selama periode itu, robot membantu produksi lebih dari 30.000 unit crossover BMW X3.
Robot Figure 02 menangani pelepasan dan penempatan komponen lembaran logam untuk proses pengelasan di jalur produksi. Pekerjaan ini membutuhkan presisi tinggi dan kecepatan yang konsisten, sekaligus menjadi tugas yang cukup melelahkan bagi pekerja manusia.
Selama masa operasinya, robot tersebut memindahkan lebih dari 90.000 komponen dan mencatat sekitar 1.250 jam kerja di lini produksi.
Tujuan Penggunaan Robot Humanoid
Kehadiran robot humanoid di pabrik sering memunculkan kekhawatiran akan menggantikan tenaga kerja manusia. Namun BMW menyebut tujuan penggunaan robot adalah untuk mengurangi beban karyawan sekaligus meningkatkan kondisi kerja di lingkungan pabrik.
Perusahaan juga mengakui penggunaan robot membantu meningkatkan daya saing produksi mereka di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat.
BMW bukan satu-satunya produsen mobil yang mulai melirik robot humanoid untuk membantu proses produksi. Sejumlah perusahaan otomotif besar juga sedang menjajaki teknologi serupa.
Mercedes-Benz misalnya telah menguji robot humanoid di pabriknya di Berlin dengan menggunakan robot Apollo dari Apptronik. Robot tersebut diuji untuk membantu logistik, pemeriksaan kualitas, serta tugas berulang di jalur produksi.
Sementara itu Hyundai berencana memperluas kemampuan robot humanoid di fasilitas produksi mereka di Amerika Serikat pada 2028 sebagai bagian dari pengembangan sistem manufaktur canggih.
Tesla juga terus mengembangkan robot humanoid mereka yang dikenal sebagai Optimus. Perusahaan tersebut bahkan memposisikan robot itu sebagai teknologi yang berpotensi digunakan di berbagai sektor industri, tidak hanya di pabrik.
Editor: Dani M Dahwilani