Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Era Elektrifikasi, Mobil Kembangkan Pelumas Mesin Hybrid dan Plug-in Hybrid
Advertisement . Scroll to see content

Penelitian Ungkap Mobil PHEV Tak Ramah Lingkungan, Ini Penyebabnya

Senin, 27 Oktober 2025 - 11:14:00 WIB
Penelitian Ungkap Mobil PHEV Tak Ramah Lingkungan, Ini Penyebabnya
Riset terbaru menunjukkan mobil hybrid tipe PHEV ternyata jauh dari kesan ramah lingkungan. (Foto: Dok)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Mobil hybrid, terutama dengan teknologi PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) menjadi idola baru. Kendaraan ini menawarkan efisiensi bahan bakar dan ramah lingkungan karena mesin hanya bekerja untuk mengisi daya baterai.

Namun, riset terbaru menunjukkan mobil hybrid tipe PHEV ternyata jauh dari kesan ramah lingkungan. Berdasarkan pemeriksaan, kadar emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih tinggi ketimbang klaim produsen.

Dilansir Carscoops, Senin (27/210/2025), riset tersebut dilakukan oleh lembaga Transport & Environment (T&E) yang meneliti lebih dari 800.000 kendaraan. Hasilnya, rata-rata emisi PHEV dalam penggunaan sehari-hari di Eropa mencapai sekitar 139 g/km, padahal produsen mengklaim emisi yang dihasilkan hanya 28 g/km.

Berdasarkan laporan tersebut, sebagian besar pemilik PHEV jarang atau bahkan tidak pernah mengisi ulang baterai mobil mereka, yang dapat menjadikannya model listrik. Mereka mengandalkan mesin untuk mengisi daya baterai.

Kondisi ini diperparah jika terjadi akselerasi berat, medan menanjak, atau cuaca dingin. Sebab, sistem listrik langsung non-aktif dan mesin bensin mengambil alih lebih cepat dari yang diasumsikan dalam pengujian.

Dampaknya tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga finansial. Konsumen yang memilih PHEV dengan harapan bahan bakar lebih hemat dan jejak karbon minimal bisa saja berakhir dengan tagihan bahan bakar lebih tinggi.

T&E memperkirakan satu keluarga bisa saja membayar sekitar 500 euro atau setara Rp9,6 jutaan per tahun. Angka ini lebih banyak dibandingkan bila mobilnya benar-benar mencapai angka yang diklaim produsen.

Bagi regulator, temuan ini menjadi alarm bahwa PHEV mungkin tidak seefektif yang diperkirakan dalam misi untuk menurunkan emisi karbon. Bahkan, sejumlah produsen mobil disebut-sebut telah menghindar dari denda miliaran euro dengan memanfaatkan aturan PHEV yang cukup longgar.

Ke depan, aturan penghitungan “utility factor”, yaitu proporsi waktu mobil dipakai dalam mode listrik akan semakin diperketat. Sebagai contoh, sebuah PHEV dengan jangkauan listrik 60 km diharapkan sekitar 80 persen berjalan dalam mode listrik. 

Namun angka ini akan turun menjadi 54 persen pada 2025/26 dan 34 persen pada 2027/28. Meski demikian, T&E memprediksi masih akan ada celah sekitar 18 persen antara klaim pabrikan dan kenyataan.

Saat ini, Indonesia menjadi sasaran utama para produsen dalam memasarkan kendaraan hybrid, terutama yang menggunakan teknologi PHEV. Kondisi ini dikatakan ideal, tetapi masyarakat Indonesia masih enggan untuk mengisi ulang daya baterai.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut