Tantang Sistem Tukar Baterai Nio, BYD Percepat Infrastruktur Pengisian EV
JAKARTA, iNews.id - Persaingan kendaraan listrik (EV) di China kini tidak hanya berfokus pada jarak tempuh atau akselerasi. Efisiensi pengisian daya mulai menjadi perhatian utama pengguna, seiring meningkatnya kebutuhan mobil listrik yang dapat diisi ulang dengan cepat dan praktis.
Laporan media otomotif China menyebutkan ekosistem pengisian kendaraan listrik mulai berkembang melalui kolaborasi antara perusahaan otomotif dan energi. Salah satu langkah menarik datang dari dua produsen EV, yakni BYD dan Nio, antara sistem pengisian daya cepat dan pertukaran baterai (swap).
Jaringan pengisian cepat BYD dirancang berbasis cakupan, di mana nilai sebuah stasiun sangat bergantung pada lokasi, ketersediaan, serta kecepatan pengisian daya. Semakin padat jaringan stasiun yang tersedia, semakin tinggi pula tingkat pemanfaatannya oleh pengguna kendaraan listrik.
Model bisnis jaringan ini relatif sederhana. Biaya terbesar berada pada perangkat keras serta pembangunan lokasi stasiun, sementara biaya operasional dinilai lebih stabil dan dapat diprediksi.
Pendapatan utama berasal dari selisih harga listrik dan biaya layanan yang dikenakan kepada pengguna kendaraan listrik.
Untuk mempercepat ekspansi, BYD juga mengintegrasikan infrastruktur pengisian yang sudah ada melalui berbagai kemitraan. Pendekatan ini memungkinkan perluasan jaringan dengan biaya tambahan yang lebih rendah.
Perusahaan tersebut menargetkan pembangunan sekitar 20.000 stasiun pengisian cepat tingkat megawatt hingga akhir 2026. Pembangunan itu didukung konsep “stasiun di dalam stasiun”, yang membantu mengurangi kebutuhan peningkatan jaringan listrik secara besar-besaran.
Selain itu, BYD juga memperkenalkan teknologi baterai generasi terbaru bernama Blade Battery 2.0. Sistem ini diklaim mampu mengisi daya baterai dari 10 persen hingga 70 persen hanya dalam waktu sekitar 5 menit dalam kondisi tertentu.
Teknologi tersebut disebut mendorong meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan listrik dengan pengisian super cepat.
Di sisi lain, pendekatan berbeda dikembangkan oleh Nio bersama CATL melalui jaringan pertukaran baterai. Sistem ini memungkinkan pengguna menukar baterai kosong dengan baterai penuh di stasiun khusus tanpa perlu menunggu proses pengisian.
Proses pertukaran tersebut rata-rata memakan waktu sekitar 3 menit. Laporan CarNewsChina menyebutkan kendaraan Nio bahkan mencatat rekor baru dalam uji coba pertukaran baterai. Dalam pengujian tersebut, sistem mampu menyelesaikan empat hari operasi berturut-turut dengan waktu rata-rata kurang dari 0,5 detik per proses pertukaran dalam skenario uji otomatis.
Pencapaian tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam otomatisasi serta efisiensi teknologi pertukaran baterai.
Salah satu keunggulan sistem ini adalah pemisahan kepemilikan baterai dari kendaraan. Pengguna dapat membeli mobil tanpa baterai dan berlangganan baterai melalui model Battery-as-a-Service.

Skema ini menciptakan pendapatan berulang melalui biaya sewa baterai. Namun, pembangunan jaringan pertukaran baterai membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. Setiap stasiun harus menyimpan puluhan hingga ratusan unit baterai, yang masing-masing memiliki nilai hingga puluhan ribu yuan.
Baterai tersebut menjadi aset yang harus dikelola secara berkelanjutan, termasuk pemeliharaan dan rotasi penggunaan.
Kendala investasi itu terlihat dari kecepatan ekspansi jaringan Nio. Perusahaan membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk mencapai 1.000 stasiun pertukaran baterai.
Meski begitu, efek jaringan tetap menjadi keunggulan utama sistem ini. Semakin banyak stasiun yang tersedia, semakin tinggi pula minat pengguna dan produsen mobil lain untuk bergabung.
Dari sisi model bisnis, jaringan pengisian cepat dan pertukaran baterai memiliki pendekatan keuangan yang berbeda.
Pengisian cepat menghasilkan arus kas stabil dari biaya layanan dan margin listrik. Sementara itu, sistem pertukaran baterai mengandalkan pendapatan sewa melalui layanan Battery-as-a-Service.
Baterai yang digunakan juga masih memiliki nilai sisa setelah masa penggunaan kendaraan. Unit tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk penyimpanan energi dalam berbagai aplikasi lain.
Dalam hal cakupan pasar, pengisian cepat dinilai lebih cocok untuk pasar massal karena skalabilitasnya yang tinggi. Sementara sistem pertukaran baterai lebih difokuskan pada penggunaan frekuensi tinggi serta segmen kendaraan premium.
Upaya standardisasi juga terus didorong oleh CATL agar baterai dapat kompatibel lintas merek kendaraan.
Sementara itu, strategi pengisian cepat agresif dari BYD berpotensi memperkuat posisi perusahaan dalam infrastruktur kendaraan listrik global.
Kombinasi jaringan pengisian cepat, teknologi baterai terbaru, dan ekspansi internasional, BYD berupaya memperkuat daya saingnya di pasar domestik maupun global.
Perusahaan juga menargetkan peningkatan ekspor kendaraan listrik hingga 1,5 juta unit pada 2026. Angka ini sekitar 15 persen lebih tinggi dibanding target sebelumnya.
Target tersebut mencerminkan ambisi BYD memperluas pasar internasional di tengah persaingan ketat industri kendaraan listrik dunia.
Editor: Dani M Dahwilani