Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Dokter Elda Putri Rahardini Minta Maaf usai Sebut Pasien BPJS Haven't Brain!
Advertisement . Scroll to see content

Dokter Elda Putri Rahardini Minta Maaf usai Sebut Pasien BPJS Haven't Brain!

Rabu, 05 Agustus 2026 - 11:25:00 WIB
Dokter Elda Putri Rahardini Minta Maaf usai Sebut Pasien BPJS Haven't Brain!
Baca Berita

JAKARTA, iNews.id – Dokter Elda Putri Rahardini merupakan salah seorang dokter yang ikut memberikan komentar sadis kepada pasien BPJS Kesehatan Yurizal Tri Chaerawan di Threads. Terbaru, dokter penerima beasiswa LPDP itu meminta maaf secara terbuka.

Permintaan maaf dr Elda Putri Rahardini disampaikan melalui surat pernyataan yang beredar di media sosial pada Selasa (4/8/2026), di tengah ramainya polemik yang menyeret namanya. Dalam surat tersebut, dr Elda mengakui komentarnya sama sekali tidak pantas dan tidak mencerminkan sikap yang seharusnya dimiliki seorang dokter.

"Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati," tulis Elda dalam pernyataannya, dikutip Rabu (5/8/2026).

Dia juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga besar almarhum Yurizal, kerabat, serta masyarakat luas yang merasa terluka akibat ucapannya.

Menurut dr Elda, sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, dirinya seharusnya selalu mengedepankan nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empati, baik dalam tindakan maupun saat berkomunikasi di media sosial.

"Saya sangat menyesali bahwa tindakan saya sama sekali tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun etika dan moral yang seharusnya saya junjung tinggi," lanjutnya.

Akui Tak Bisa Hapus Luka Keluarga

Dalam surat tersebut, dr Elda turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yurizal dan mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Dia menyadari permintaan maaf yang disampaikannya mungkin tidak cukup untuk menghapus rasa sakit, kekecewaan, maupun kemarahan yang telah muncul akibat komentarnya.

"Saya berjanji akan menjadikan kejadian ini sebagai teguran keras dan pembelajaran seumur hidup agar saya bisa menjadi pribadi dan tenaga medis yang jauh lebih bijak, berempati, dan menjaga tutur kata baik di dunia nyata maupun di ruang digital," ujarnya.

Dokter Elda juga menegaskan siap menerima kritik, teguran, maupun konsekuensi atas tindakannya. Dia kembali meminta maaf kepada keluarga almarhum Yurizal, instansi tempatnya mengabdi, dan masyarakat luas.

Komentar Haven't Some Brain Cells Viral

Nama dr Elda Putri Rahardini menjadi sorotan setelah akun Threads yang dikaitkan dengannya mengomentari unggahan Yurizal yang mengeluhkan harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap sebagai pasien BPJS Kesehatan.

Saat itu, dr Elda menuliskan komentar yang berbunyi, "PP-nya kaya orang have tetapi aslinya haven't kah? Haven't some brain cells."

Komentar tersebut dinilai sebagai penghinaan terhadap pasien dan langsung menuai kritik dari warganet. Polemik semakin membesar setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

Sejak saat itu, berbagai komentar bernada sinis dari sejumlah akun milik dokter maupun tenaga kesehatan kembali bermunculan dan menjadi sorotan publik. Banyak pihak menilai komentar-komentar tersebut tidak mencerminkan empati serta bertentangan dengan etika profesi tenaga kesehatan.

Sudah 3 Tenaga Kesehatan Minta Maaf

Dokter Elda menjadi salah satu dari beberapa tenaga kesehatan yang telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka terkait polemik ini.

Sebelumnya, dr Benny Christian Sihombing juga mengunggah video permintaan maaf dan menyatakan siap menerima seluruh konsekuensi, termasuk jika harus menghadapi proses hukum maupun sanksi dari institusi terkait.

Permintaan maaf serupa juga disampaikan Widhiyarini Pangestika, tenaga kesehatan yang menjadi sorotan setelah menulis komentar, "Potong aja kak nadinya nanti juga cepat dapat ruangan". Widhiyarini mengakui komentarnya tidak menunjukkan etika, empati, maupun profesionalisme sebagai tenaga kesehatan.

Kasus ini terus menjadi perhatian publik dan memicu diskusi mengenai pentingnya menjaga etika profesi serta empati dalam penggunaan media sosial, khususnya bagi dokter dan tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Berita Lainnya

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut