Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Liburan Tak Lagi Cuma Foto-Foto, Tren Wisatawan Bergeser ke Pengalaman Lokal!
Advertisement . Scroll to see content

Liburan Tak Lagi Cuma Foto-Foto, Tren Wisatawan Bergeser ke Pengalaman Lokal!

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:12:00 WIB
Liburan Tak Lagi Cuma Foto-Foto, Tren Wisatawan Bergeser ke Pengalaman Lokal!
Baca Berita

JAKARTA, iNews.id - Liburan kini tak lagi sekadar mendatangi destinasi populer, berfoto di depan landmark, lalu berpindah ke tempat berikutnya. Pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat lokal justru mulai menjadi bagian penting dalam perjalanan wisata.

Wisatawan semakin tertarik mengenal destinasi melalui cara hidup, tradisi, kuliner, kerajinan, hingga lanskap yang mungkin luput dari rute wisata pada umumnya. Perjalanan pun bergeser dari sekadar melihat menjadi ikut mengalami.

Fenomena ini terlihat dari semakin beragamnya pilihan aktivitas wisata yang membawa pelancong lebih dekat dengan komunitas dan lingkungan setempat. Mulai dari belajar membuat kerajinan bersama pengrajin lokal, menyusuri desa, mengenal tradisi turun-temurun, hingga menikmati alam dengan pendampingan pemandu yang memahami ekosistem sekitar.

Wisata lokal di Roma Italia yang memesona. (Foto: Istimewa)
Wisata lokal di Roma Italia yang memesona. (Foto: Istimewa)

Di Bali misalnya, pengalaman wisata tidak melulu berpusat di kawasan pantai. Wilayah pedalaman seperti Taro menawarkan sisi lain Pulau Dewata melalui persawahan, hutan, permukiman bersejarah, serta kehidupan masyarakat yang masih berkaitan erat dengan tradisi dan alam.

Pengalaman semacam itu menjadi salah satu aktivitas yang ditawarkan Anantara Ubud Bali Resort. Wisatawan diajak menjelajahi kawasan pedalaman menggunakan mini jeep terbuka, menyusuri persawahan hingga Taro, serta mengenal kawasan Hutan Alas Taro. Perjalanan juga mencakup perjumpaan dengan kerbau putih yang disakralkan dan kunjungan ke kawasan konservasi kunang-kunang.

Konsep serupa juga terlihat di sejumlah destinasi lain. Di Jaipur, India, wisatawan dapat mengenal kehidupan pengrajin lokal melalui pembuatan karpet dengan teknik simpul tangan, gerabah, hingga gelang lak. Pengalaman kemudian dilanjutkan dengan menyusuri kawasan bersejarah dan menikmati masakan rumahan khas Rajasthan.

Sementara di Kamboja, perjalanan dapat membawa wisatawan lebih dekat dengan simbol budaya setempat melalui bunga teratai. Di sekitar Siem Reap, wisatawan dapat mengunjungi perkebunan teratai, memanen bunga, hingga mempelajari proses pengolahan serat dari batangnya.

Bergeser ke Budapest, Hungaria, wisatawan juga dapat meninggalkan kawasan wisata utama untuk menuju Desa Tard dan mengenal seni sulam folk-art Matyó yang diwariskan antargenerasi. Interaksi dengan pengrajin lokal menjadi bagian dari perjalanan, sebelum wisatawan mencicipi masakan rumahan khas Hungaria.

Wisata lokal seperti menjelajahi hutan mangrove semakin diminati. (Foto: Istimewa)
Wisata lokal seperti menjelajahi hutan mangrove semakin diminati. (Foto: Istimewa)

Dari Destinasi ke Cerita

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa nilai suatu perjalanan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi. Bagi sebagian wisatawan, pengalaman yang memungkinkan mereka memahami karakter sebuah destinasi justru dapat meninggalkan kesan lebih panjang.

Hal serupa juga terlihat dalam tren menikmati alam. Di Malaysia, misalnya, wisata malam di kawasan hutan bakau menawarkan pengalaman yang berbeda setelah matahari terbenam. Wisatawan dapat menyusuri sungai untuk melihat kunang-kunang, sekaligus menikmati suasana alam yang lebih tenang.

Di Roma, pengalaman mengenal kota juga dapat dilakukan dengan ritme yang lebih santai. Alih-alih hanya mengunjungi landmark terkenal, perjalanan menggunakan perahu pribadi menyusuri Sungai Tiber menawarkan perspektif berbeda terhadap bangunan bersejarah dan sudut-sudut kota.

Sementara di Zambia, keindahan Air Terjun Victoria dinikmati dari lebih dari satu sudut pandang. Perjalanan dapat dimulai dari udara menggunakan helikopter, kemudian dilanjutkan dengan menyusuri Sungai Zambezi menggunakan perahu menuju kawasan yang lebih terpencil.

Dengan kata lain, wisatawan kini memiliki semakin banyak pilihan untuk mengenal sebuah tempat secara lebih mendalam. Ya, mereka tidak hanya datang untuk mengabadikan pemandangan, tetapi juga ingin tahu siapa yang tinggal di baliknya, tradisi apa yang masih bertahan, makanan apa yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, hingga bagaimana alam di sekitarnya dijaga.

Dengan demikian, oleh-oleh dari perjalanan tidak selalu harus berupa souvenir. Bisa jadi, cerita tentang orang yang ditemui, tradisi yang dipelajari, atau pengalaman yang tidak ditemukan di buku panduan justru menjadi bagian paling berkesan dari sebuah liburan.

Berita Lainnya

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut