Purbaya Ngaku Jadi Menkeu Paling Tak Beruntung, Singgung 4 Ujian Berat Ekonomi RI
JAKARTA, iNews.id - Purbaya Yudhi Sadewa mengaku menjadi Menteri Keuangan paling tak beruntung di dunia. Hal itu karena rangkaian tekanan berat yang melanda Indonesia sejak menjabat sebagai Bendahara Negara.
"Tantangannya memang ada tapi ketahanan kita juga semakin besar. Ketika saya pergi ke pertemuan IMF dan World Bank bulan April lalu, saya mengatakan bahwa saya adalah menteri keuangan yang paling tidak beruntung di dunia," ujar Purbaya dalam sambutannya saat menghadiri Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Selasa (4/8/2026).
Eks Ketua DK LPS ini mengungkapkan, tekanan ekonomi dan politik sudah muncul sejak awal masa jabatannya. Salah satu tantangan pertama yang dihadapi adalah gelombang demonstrasi besar pada Agustus 2025.
Aksi tersebut dipicu akumulasi kekecewaan publik terhadap rencana kenaikan tunjangan DPR serta kondisi perekonomian nasional. Setelah situasi domestik berhasil distabilkan, pemerintah kembali menghadapi tekanan dari pasar keuangan global.
Kementerian Keuangan kemudian harus berhadapan dengan peninjauan indeks saham oleh MSCI serta catatan rating negatif dari lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings dan Moody's.
"Ketika saya mengambil jabatan, saya menghadapi demonstrasi yang besar. Setelah kami menstabilkan demo, saya menghadapi MSCI dan kemudian, saya menghadapi rating negatif dari Fitch dan Moody's," ungkapnya.
Di tengah tekanan tersebut, otoritas keuangan Indonesia berhasil mempertahankan status pasar modal nasional dalam jajaran Emerging Market. MSCI mengapresiasi langkah reformasi pasar modal dan memperpanjang masa evaluasi hingga November 2026.
Namun, ujian ekonomi Indonesia belum berhenti. Purbaya menyebut gejolak geopolitik berupa keterlibatan perang di Iran turut memberikan tekanan terhadap perekonomian. Selain itu, ketatnya likuiditas dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah.
"Setelah kami menyelesaikan semuanya, kemudian ada perang di Iran. Setelah itu, mereka tidak menyukai saya. Mereka mengatakan bahwa Menteri ini tidak cukup baik," tutur Purbaya.
Meski menghadapi empat guncangan secara bersamaan, mulai dari persoalan likuiditas, evaluasi MSCI, penilaian Fitch dan Moody's, hingga volatilitas nilai tukar, Purbaya menilai kebijakan fiskal dan koordinasi pemerintah mampu menjaga stabilitas nasional.
"Faktanya, kami telah mengadakan kebijakan yang sangat baik dengan kebijakan fiskal dan pemerintah. Dengan kondisi ekonomi dan politik yang sangat tidak tentu, kami masih berhasil tumbuh lebih dari 5 persen. Ini adalah pencapaian menurut saya," ungkapnya.
Purbaya menilai kemampuan Indonesia melewati rangkaian tekanan tersebut menjadi gambaran ketahanan ekonomi nasional. Dia menyebut fondasi perekonomian dan sistem keuangan Indonesia tetap mampu bertahan meski menghadapi berbagai guncangan dalam waktu berdekatan.
"Satu saja sudah cukup, kali ini kita menghadapi empat sekaligus. Namun ekonomi Indonesia tetap kokoh, sistem keuangan tetap stabil, dan kegiatan ekonomi tetap berjalan. Ini menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya," pungkas Purbaya.