Strategi Pariwisata Indonesia, Bidik Wisata Bahari dari Yacht hingga Diving
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan strategi pengembangan wisata bahari atau marine tourism dengan membidik sejumlah produk wisata bernilai tinggi, mulai dari yacht, cruise, hingga diving. Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas produk dan pengalaman wisata di Indonesia.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pengembangan marine tourism menjadi salah satu fokus dalam strategi quality tourism. Pemerintah ingin mendorong peningkatan pengeluaran wisatawan melalui produk wisata yang memiliki daya tarik dan pasar yang tepat.
“Indonesia memiliki beragam kekayaan destinasi, termasuk alam dan budaya. Karena itu, salah satu fokus utama kami adalah mengembangkan quality tourism, yaitu meningkatkan kualitas produk dan pengalaman wisata yang ditawarkan untuk mendorong pengeluaran wisatawan,” ujarnya.
Menurut Widiyanti, potensi wisata bahari Indonesia dapat dikembangkan melalui berbagai produk, termasuk yacht, cruise, dan diving. Namun, pengembangan produk wisata perlu diikuti strategi untuk menghubungkannya dengan pasar yang sesuai.
“Untuk marine tourism, misalnya, kami mengembangkan produk seperti yacht dan cruise, dan diving. Namun produk yang baik perlu terhubung dengan pasar yang tepat,” kata Widiyanti.
Strategi tersebut disampaikan Widiyanti dalam Konferensi Pers WITF di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Rabu (23/9/2026).
Pengembangan pariwisata berkualitas juga dilakukan di tengah pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Hingga Juli 2026, jumlah kunjungan wisman mencapai 8,98 juta atau tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari kunjungan tersebut, devisa yang dihasilkan mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp140,95 triliun. Sementara itu, perjalanan wisatawan Nusantara mencapai 737,8 juta perjalanan atau tumbuh 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan pariwisata turut menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, UMKM, hingga ekonomi kreatif di daerah.