Tak Cuma Andalkan Panorama, Labuan Bajo Kini Benahi SDM agar Jadi Destinasi Wisata Kelas Dunia
JAKARTA, iNews.id - Keindahan alam saja tak lagi cukup untuk membuat destinasi wisata mampu bersaing di tingkat dunia. Kualitas pelayanan kini menjadi faktor penting yang menentukan pengalaman wisatawan. Hal inilah yang sedang dibenahi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Sebanyak 100 pelaku dan penggiat pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas melalui program InJourney Hospitality House (IHH). Kegiatan yang berlangsung di Sanggar Budaya Riang Tanah Tiwa, Desa Wisata Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, itu menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya hospitality atau keramahtamahan di destinasi yang menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia tersebut.
Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari pengelola desa wisata, komunitas ekonomi kreatif, pelaku usaha pariwisata, hingga tokoh adat yang selama ini berperan dalam menjaga identitas budaya lokal.
Selama pelatihan Batch 2 dan Batch 3, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai service excellence, komunikasi pelayanan, customer experience, pengelolaan destinasi wisata berkelanjutan, hingga pengembangan local champion yang diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di komunitas masing-masing. Tak hanya belajar di dalam kelas, mereka juga memperoleh pendampingan agar ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan di lapangan.
Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (HIN), Christine Hutabarat, mengatakan penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting dalam membangun destinasi wisata yang mampu bersaing secara global.
"Melalui InJourney Hospitality House, kami tidak hanya menghadirkan pelatihan, tetapi juga membangun fondasi budaya hospitality yang menjadi kekuatan utama destinasi Indonesia," ujar Christine dalam keterangan resminya, Selasa (28/7/2026).
"Kami berkomitmen terus mendukung peningkatan kapasitas masyarakat melalui kolaborasi lintas entitas InJourney Group sehingga tercipta destinasi yang semakin kompetitif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal. Kami meyakini bahwa transformasi pariwisata Indonesia dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusianya," tambahnya.
Menurutnya, wisatawan saat ini tidak hanya mencari panorama yang indah, tetapi juga pengalaman menyenangkan melalui pelayanan yang profesional, ramah, dan berkesan.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Utama PT Sarinah (Persero), Raisha Syarfuan. Ia menilai masyarakat lokal merupakan aset terpenting dalam membangun daya saing sebuah destinasi.
"Keunggulan sebuah destinasi tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada masyarakat yang mampu menghadirkan pengalaman autentik bagi wisatawan. Melalui InJourney Hospitality House, Sarinah ingin memperkuat peran masyarakat sebagai pelaku utama yang menjaga budaya sekaligus meningkatkan daya saing destinasi Indonesia," katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Integrasi Aviasi Solusi (IAS), Tri Andayani, menegaskan bahwa pelayanan wisata berkualitas tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, melainkan juga kesiapan sumber daya manusia.
"Melalui InJourney Hospitality House, IAS berkomitmen mendukung pengembangan kapabilitas IAS People sebagai garda terdepan dalam menciptakan layanan yang profesional, ramah, dan berstandar internasional. Sinergi lintas entitas InJourney Group ini merupakan wujud nyata komitmen kami untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan, memperkuat ekosistem pariwisata nasional, serta meningkatkan daya saing destinasi Indonesia melalui budaya hospitality yang menjadi identitas bangsa," ujar Tri.
Program ini merupakan bagian dari implementasi tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) InJourney Group yang telah dijalankan secara berkelanjutan sejak 2024. Melalui kolaborasi antara PT Hotel Indonesia Natour, PT Sarinah (Persero), dan PT Integrasi Aviasi Solusi, pelatihan difokuskan untuk meningkatkan kualitas layanan masyarakat yang menjadi ujung tombak industri pariwisata.
Dengan semakin meningkatnya kompetensi pelaku wisata lokal, Labuan Bajo diharapkan tak hanya dikenal sebagai rumah bagi Pulau Komodo dan panorama lautnya yang memukau, tetapi juga sebagai destinasi dengan pelayanan kelas dunia yang memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.