Vasektomi Bisa Menurunkan Gairah Seksual? Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id - Keputusan aktor Krisjiana Baharudin menjalani vasektomi tengah menjadi sorotan setelah dia dan sang istri, Siti Badriah, sepakat untuk tidak menambah momongan. Krisjiana mengungkap keputusan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam rumah tangga setelah Siti Badriah menjalani dua kali kehamilan.
Di tengah perhatian terhadap keputusan tersebut, muncul pertanyaan yang sering menyertai vasektomi, benarkah prosedur ini dapat menurunkan gairah seksual pria? Simak jawaban medisnya hanya di artikel ini.
Cek Fakta: Vasektomi Memengaruhi Gairah Seksual?
Secara medis, jawabannya tidak. Vasektomi tidak terbukti menurunkan libido atau gairah seksual pria karena prosedur ini tidak menghentikan produksi hormon testosteron.
Menurut National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), vasektomi tidak memengaruhi gairah seksual karena tidak mengganggu produksi hormon testosteron. Prosedur tersebut juga tidak membuat pria kehilangan kemampuan untuk ereksi maupun ejakulasi.
Vasektomi Tidak Menghentikan Produksi Testosteron
Vasektomi merupakan metode kontrasepsi pria yang bekerja dengan menghambat jalur sperma. Dokter memotong atau menutup vas deferens, yakni saluran yang membawa sperma dari testis.
Artinya, tindakan tersebut tidak ditujukan untuk mengganggu testis dalam menghasilkan hormon testosteron.
Testosteron sendiri merupakan hormon yang berperan dalam berbagai fungsi tubuh pria, termasuk perkembangan karakteristik seksual dan dorongan seksual. Karena produksi hormon tersebut tetap berlangsung setelah vasektomi, gairah seksual pada dasarnya tidak hilang akibat prosedur ini.
Mayo Clinic juga menyebut vasektomi tidak memengaruhi 'sex drive', ereksi, maupun maskulinitas. Bahkan, sebagian pria melaporkan kepuasan seksual yang lebih baik setelah menjalani vasektomi.
Bagaimana dengan Ereksi dan Ejakulasi?
Vasektomi juga tidak membuat pria kehilangan kemampuan untuk ereksi atau ejakulasi.
NICHD menjelaskan bahwa pria tetap dapat mengalami ereksi dan mengeluarkan semen setelah vasektomi. Perbedaannya terletak pada kandungan sperma di dalam semen karena sperma tidak lagi dapat melewati vas deferens setelah prosedur berhasil.
Jumlah semen yang keluar pun secara umum tidak mengalami perubahan yang dapat terlihat. Pasalnya, sperma hanya menyumbang sebagian kecil dari volume semen.
Dengan demikian, vasektomi bukan prosedur untuk membuat pria menjadi impoten atau menghentikan aktivitas seksual.
Seks Bisa Terasa Tidak Nyaman Sementara setelah Operasi
Meski tidak menurunkan gairah seksual dalam jangka panjang, kondisi setelah operasi bisa membuat aktivitas seksual terasa kurang nyaman untuk sementara.
NHS mencatat nyeri dan pembengkakan pada testis selama sekitar satu minggu merupakan hal yang umum setelah vasektomi. Ereksi pada awal masa pemulihan juga dapat terasa sakit, tetapi keluhan tersebut biasanya bersifat sementara.
NHS juga menyarankan pria tidak melakukan aktivitas seksual, termasuk masturbasi, selama setidaknya 2 hingga 7 hari setelah prosedur. Waktu pemulihan setiap orang dapat berbeda sehingga instruksi dokter yang menangani tetap menjadi acuan.
Setelah masa pemulihan, tidak terdapat bukti bahwa vasektomi menyebabkan penurunan performa atau kenikmatan seksual dalam jangka panjang.
Vasektomi Tidak Langsung Membuat Pria Steril
Hal lain yang perlu dipahami adalah vasektomi tidak langsung efektif mencegah kehamilan begitu operasi selesai.
Masih terdapat sperma yang tersisa di saluran reproduksi setelah prosedur. Karena itu, pasangan tetap harus menggunakan kontrasepsi lain sampai pemeriksaan semen menunjukkan bahwa tidak ada lagi sperma.
Mayo Clinic menyebut pemeriksaan semen umumnya dilakukan sekitar tiga bulan setelah vasektomi, meski waktu pemeriksaan dapat mengikuti arahan tenaga kesehatan.
Urology Care Foundation juga menjelaskan bahwa vasektomi tidak langsung bekerja karena diperlukan waktu untuk membersihkan sperma yang masih berada di saluran reproduksi.
Vasektomi Bukan Pelindung dari Infeksi Menular Seksual
Vasektomi hanya berfungsi sebagai metode kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Prosedur ini tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV.
Karena itu, kondom tetap diperlukan apabila seseorang membutuhkan perlindungan terhadap penularan IMS.
Jadi, secara medis keputusan menjalani vasektomi tidak berarti Krisjiana harus kehilangan gairah seksual. Prosedur tersebut bekerja pada saluran sperma, bukan pada hormon testosteron atau kemampuan seksual pria. Namun, setiap tindakan medis tetap memiliki risiko dan membutuhkan konsultasi dengan dokter sebelum dilakukan.