Miris! SD di Gianyar Bali Ini Tak Dapat Satu Pun Murid Baru
GIANYAR, iNews.id - SD Negeri 5 Kedewatan di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, tidak mendapatkan satu pun murid baru kelas satu pada tahun ajaran 2026/2027. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi penerapan sistem domisili dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) serta diperparah keterbatasan tenaga pendidik.
Situasi ini menjadi tantangan berat bagi sekolah yang sebelumnya mampu meraih berbagai prestasi di tingkat kabupaten maupun provinsi tersebut.
Kepala SDN 5 Kedewatan Ni Luh Dewi Supraptini mengatakan, tidak adanya murid baru terjadi setelah penerimaan siswa diberlakukan berdasarkan domisili sesuai ketentuan SPMB.
SDN 5 Kedewatan yang berlokasi di Banjar Anyar menjadi sekolah penyangga bagi anak-anak yang tinggal di wilayah tersebut. Namun, tahun ini tidak ada lulusan taman kanak-kanak maupun pendidikan anak usia dini dari Banjar Anyar yang melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah dasar.
Sekolah sempat menerima pendaftaran calon siswa dari luar wilayah. Namun, proses pendaftaran tidak dapat dilanjutkan karena calon siswa tersebut tidak memenuhi persyaratan domisili.
Seorang calon siswa lain yang berasal dari luar daerah juga membatalkan niat bersekolah di SDN 5 Kedewatan karena tidak ada teman sebaya yang mendaftar.
"Di SD 5 Kedewatan untuk tahun ini tidak dapat siswa, bukannya sama sekali tidak dapat, ada yang mendaftar kemarin tapi karena di sini sedikit atau tidak ada yang mendaftar yak tidak jadi sekolah di sini," ujarnya.
Tidak adanya siswa baru membuat jumlah peserta didik di sekolah tersebut semakin minim. Saat ini, kelas dua hanya berisi sembilan siswa, kelas tiga 10 siswa, kelas empat tujuh siswa, kelas lima enam siswa, dan kelas enam delapan siswa.
Dengan demikian, total siswa yang masih menempuh pendidikan di SDN 5 Kedewatan berjumlah 40 orang. Selain kekurangan murid, SDN 5 Kedewatan juga masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik. Sekolah tersebut membutuhkan tambahan dua guru kelas dan satu guru mata pelajaran.
"Di samping itu kondisi sekolah kami juga kekurangan tiga guru, yaitu satu guru mapel dan dua guru kelas. Sekarang jumlah kelas dua itu ada sembilan orang, kelas tiga 10 orang, kelas empat tujuh orang, kelas lima enam orang dan kelas enam itu jumlahnya delapan orang," katanya.
Meski tidak memperoleh murid baru pada tahun ajaran ini, pihak sekolah memastikan pelayanan pendidikan bagi siswa yang masih belajar tetap berjalan secara optimal.
Editor: Donald Karouw