Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Viral Petugas Damkar Temukan Wanita Hilang 2 Bulan dan Pulangkan ke Keluarga
Advertisement . Scroll to see content

Longsoran Anak Krakatau Diduga Jadi Penyebab Tsunami Selat Sunda

Minggu, 23 Desember 2018 - 13:44:00 WIB
Longsoran Anak Krakatau Diduga Jadi Penyebab Tsunami Selat Sunda
Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa).
Advertisement . Scroll to see content

BANDUNG, iNews.id - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) menduga gelombang pasang yang menyapu sepanjang pantai perairan Selat Sunda di Banten dan Lampung, diakibatkan longsoran material dari Gunung Anak Krakatau.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Wawan Iriawan mengatakan, berdasarkan catatan alat dan pantauan, gelombang pasang atau tsunami tersebut bukan akibat aktivitas vulkanik. Tapi lantaran adanya longsoran material Gunung Anak Krakatau.

"Tapi, untuk membuktikan hal tersebut dibutuhkan pengecekan lapangan. Apakah betul terjadi longsoran dari tubuh krakatau atau tidak. Hari ini tim kita berangkat ke sana untuk melakukan pemeriksaan di sana," kata Wawan di Kantor PVMBG, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (23/12/2018).

Menurut dia, Anak Gunung Krakatau sempat meletus pada pukul 21.03 WIB dengan melontarkan pijar setinggi 300-500 meter. Aktivitas terakhir itu masih tercatat dalam kategori tipe kecil artinya berdasarkan grafik tremor kegempaan tidak mungkin mengakibatkan tsunami.

"Dibutuhkan energi besar untuk bisa mengakibatkan tsunami. Nah, letusan tadi malam itu tipe kecil," ujarnya.

Wawan menduga, gelombang pasang atau tsunami yang menyapu sepanjang bibir pantai Pandeglang, Banten itu akibat adanya longsoran material Gunung Anak Krakatau.

Sementara itu, Kasubit Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat, Akhmad solihin mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus mengalami letusan sejak Juni hingga Agustus 2018. Tetapi, kondisinya sangat fluktuatif dengan aktivitas letusan naik turun.

Sementara amplitudo maksimum terhadap tremor kegempaan sudah berlangsung pada Juni hingga sekarang. Namun, selama ini belum pernah terjadi peristiwa gelombang tinggi seperti Sabtu kemarin malam.

"Kami juga sedikit kaget dengan kejadian semalam," ujar dia.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut