Warga Berebut Air Bekas Cucian Piring Jimat di Keraton Kacirebonan, Diyakini Bawa Keberkahan
CIREBON, iNews.id - Ratusan warga rela datang dari berbagai daerah dan menunggu berjam-jam demi mendapatkan air bekas cucian pusaka dalam tradisi Siraman Panjang di Keraton Kacirebonan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026). Air bekas siraman tujuh piring jimat tersebut menjadi rebutan warga karena dipercaya memiliki nilai keberkahan.
Antusiasme warga terlihat saat prosesi pembagian air berlangsung. Warga yang sejak pagi telah menunggu langsung berdesakan membawa wadah masing-masing untuk menampung air bekas cucian pusaka.
Suasana sempat berlangsung ricuh karena ratusan warga saling berebut ingin segera mendapatkan air tersebut. Petugas dan pihak keraton pun berupaya mengatur jalannya pembagian agar tetap tertib.
Salah seorang warga, Karmita, mengaku datang sejak pagi untuk mengikuti tradisi tahunan tersebut. Warga asal Indramayu itu rela menunggu lama demi memperoleh air siraman pusaka.
"Alhamdulillah dapat juga airnya. Air ini buat diambil karomahnya," ujar Karmita, Rabu (26/8/2026).
Tradisi Siraman Panjang merupakan bagian dari rangkaian budaya Keraton Kacirebonan yang digelar setiap satu tahun sekali menjelang malam panjang jimat. Dalam prosesi tersebut, tujuh piring jimat yang dipercaya sebagai peninggalan Sunan Gunung Jati dicuci dan disucikan menggunakan air kembang.
Piring jimat pertama dibawa oleh Putra Mahkota Keraton Kacirebonan, Elang Raja Muhamad Kusuma Natadiningrat. Sementara enam piring lainnya dibawa oleh keluarga keraton.
Sultan Keraton Kacirebonan IX Pangeran Raja Abdulgani Natadiningrat mengatakan, tradisi tersebut memiliki makna spiritual bagi masyarakat.
"Mengandung makna tersirat bagi kita umat Islam agar menjadikan kita ini insan yang soleh," katanya.
Meski sempat terjadi kepadatan akibat antusiasme warga yang berebut air siraman, tradisi Siraman Panjang tetap berjalan dan menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga. Bagi masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut, kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari penghormatan terhadap peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan.
Editor: Donald Karouw