Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Korupsi Dana Bantuan Covid-19 di Karawang Rp1,99 Miliar, 7 Orang Jadi Tersangka
Advertisement . Scroll to see content

Angka Kematian Meningkat, Epidemiolog Unsoed: Pandemi Covid-19 di Indonesia Kritis

Jumat, 09 Juli 2021 - 10:30:00 WIB
Angka Kematian Meningkat, Epidemiolog Unsoed: Pandemi Covid-19 di Indonesia Kritis
Pemakaman jenazah Covid-19. Epidemiolog Unsoed menyebut situasi pandemi Covid-19 di Indonesia dalam kondisi kritis. (foto Dok Sindo)
Advertisement . Scroll to see content

PURWOKERTO, iNews.id - Kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan sejak awal Juli 2021. Bahkan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menyebut jika Indonesia telah memasuki gelombang kedua kenaikan kasus Covid-19. 

Ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dr. Yudhi Wibowo, M.PH mengatakan jika dampak gelombang kedua ini terasa setelah angka kematian meningkat.

"Kondisi ini disebut serangan gelombang kedua pandemi. Oleh karena itu, pemerintah telah merespons dengan kebijakan PPKM Darurat khususnya untuk Jawa-Bali," kata Yudhi dikutip dari purwokerto.inews.id, Jumat (9/7/2021).

Menurutnya jika Indonesia dalam kondisi kritis, dan sedang tidak baik-baik saja. Penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di wilayah Jawa dan Bali diharapkan memberikan penurunan angka penularan Covid-19. "Ini merupakan perang sesungguhnya melawan musuh yang tidak kasat mata yang terus bermutasi," katanya.

Yudhi yang juga Tim Ahli Satgas Covid-19 Banyumas mengatakan jika melalui PPKM darurat di wilayah Jawa dan Bali diharapkan mampu menurunkan angka penularan Covid-19. Pasalnya para tenaga kesehatan sudah mulai kewalahan karena antrean pasien seakan tak pernah berhenti.

Dia juga meminta masyarakat untuk tetap tenang, tidak perlu takut dan panik berlebihan. Namun harus bersikap lebih waspada dan lebih mawas diri serta paling penting mampu memilih dan memilah informasi yang benar atau valid dari media sosial.

"Jika tidak bisa memilih dan memilah informasi dari media sosial maka lebih baik menghindari media sosial. Karena sumber unformasi yang tidak benar (hoax) bisa menyebabkan kebingungan, ketakutan, dan kepanikan berlebihan. Infodemik jauh lebih berbahaya dari pandemi itu sendiri," ujarnya.

Editor: Ahmad Antoni

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut