Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dukung Ketahanan Pangan-Energi, PLN Tanam Kaliandra dan Gamal di Brebes
Advertisement . Scroll to see content

Menyemai Energi Hijau di Tanah Tandus Brebes, Kaliandra dan Gamal jadi Biomassa Masa Depan

Jumat, 11 September 2026 - 19:21:00 WIB
Menyemai Energi Hijau di Tanah Tandus Brebes, Kaliandra dan Gamal jadi Biomassa Masa Depan
Petani menyiram tanaman Kaliandra merah yang bisa menjadi bahan energi baru terbarukan. (Foto: Dok.iNews)
Advertisement . Scroll to see content

BREBES, iNews.id - Langkah transformatif bagi peradaban energi Indonesia tengah disemaikan di Desa Kamal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di lahan seluas 10 hektare yang tandus dan kurang produktif, kini diproyeksikan menjadi tambang hijau yang akan menyuplai bahan bakar terbarukan bagi pembangkit listrik nasional. 

Langkah strategis ini diawali melalui gerakan penanaman perdana tanaman Kaliandra dan Gamal yang diinisiasi oleh PLN Energi Primer Indonesia berkolaborasi dengan Badan Standarisasi Instrumen Pertanian Kementerian Pertanian serta gabungan kelompok tani setempat. Proyek tersebut sudah digaungkan pada Januari 2025 lalu.

Penanaman bibit tanaman energi tersebut bukan sekadar aktivitas penghijauan biasa, melainkan wujud nyata dari pergeseran paradigma energi nasional. Indonesia secara perlahan mulai mengikis ketergantungan pada bahan bakar fosil yang mengeruk bumi dan beralih menuju pemanfaatan vegetasi yang dapat diperbarui. 

Pengintegrasian Sistem Pertanian Terpadu Tanaman Energi, Brebes tidak hanya bersiap menjadi pelopor bioenergi, tetapi juga menjadi cermin bagaimana transisi energi dapat berjalan selaras dengan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Selama berabad-abad, batu bara menjadi tulang punggung utama pembangkitan listrik tenaga uap di berbagai pelosok Indonesia. Namun, dampak emisi karbon yang kian membebani lingkungan menuntut hadirnya alternatif pengganti yang jauh lebih ramah lingkungan. Di sinilah tanaman kayu berenergi seperti gamal, kaliandra merah, dan indigofera mengambil peran kunci. Jenis tanaman ini memiliki karakteristik istimewa yang menjadikannya bahan baku biomassa ideal untuk metode substitusi batu bara atau co-firing.

Calliandra merupakan genus tanaman legum berbunga majemuk yang terdiri dari sekitar 200 jenis pohon berukuran sedang. Di Indonesia, jenis kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus) populer dimanfaatkan untuk reboisasi dan pakan ternak. Tumbuhan perdu berkayu ini memiliki dedaunan yang lebat, tinggi mencapai 25 meter, serta akar kuat yang menembus tanah sejauh 1,5 hingga 2 meter.

Kayu dari tanaman gamal dan kaliandra memiliki kerapatan serta nilai kalori yang tinggi saat dikeringkan, sehingga mampu mendekati karakteristik pembakaran batu bara muda. Menariknya lagi, tanaman energi ini memiliki siklus panen yang sangat panjang dan produktif. Setelah masa tanam awal sekitar satu setengah tahun, kayu utamanya sudah dapat dipanen.

Pemanenan dilakukan dengan menyisakan batang pokok melalui teknik trubusan, sehingga tanaman akan kembali bertunas dan siap dipanen ulang setiap tahun hingga usia pohon mencapai 15 tahun tanpa perlu melakukan penanaman ulang dari awal. Selain itu, tanaman jenis legum ini mampu memfiksasi nitrogen dari udara, membuat mereka sanggup tumbuh subur bahkan di lahan kritis sekalipun.

Meski demikian, penanaman massif tanaman kaliandra dan gamal belum dilakukan massif di berbagai daerah. Potensi tanaman ini sebagai sumber EBT, nyaris belum dilirik. Padahal, di negara-negara Eropa, tanaman ini sudah dijadikan sumber energi pembangkit listrik dengan mengolah Batang dan dahan  Kaliandra dibuat jadi Wood Chip dan Wood Pelet. 

Melansir laman UTU.ac.id, Pusat Riset Kaliandra Universitas Teuku Umar mengungkapkan, pelet kayu dianggap lebih ramah lingkungan daripada batubara. Wood pellet atau pelet kayu dari Kaliandra dianggap carbon neutral. Daripada bahan bakar gas (BBG), emisi CO2 yang dihasilkan pelet kayu 8 kali lebih rendah. Sedang dibandingkan bahan bakar minyak (BBM), emisi CO2 pelet kayu 10 kali lebih rendah. Sehingga tak heran, tren pelet kayu sebagai EBT biomassa menjadi alternatif energy. Potensi EBT di Indonesia secara keseluruhan mampu menghasilkan 144 gigaWatt. Walau kini target yang tercapai baru tercapai, 2% atau 8,89 gigaWatt.

Tujuan Penanaman Kaliandra dan Gamal

Pengembangan biomassa berbasis tanaman energi di Brebes ini mengusung dua tujuan besar yang saling menguatkan. Tujuan utamanya adalah mengakselerasi pencapaian target emisi nol bersih atau Net Zero Emission pada tahun 2060 mendatang. Pasokan biomassa yang berkelanjutan akan menggantikan porsi penggunaan batu bara secara bertahap pada PLTU, sehingga penurunan konsumsi bahan bakar fosil tersebut secara langsung mengikis jejak karbon di sektor ketenagalistrikan.

Di sisi lain, program ini juga membidik ketahanan pangan dan ekonomi terpadu dengan mengintegrasikan tanaman energi dan tanaman pangan melalui pola tumpangsari. Daun dari tanaman gamal dan indigofera yang kaya akan protein bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berkualitas tinggi, menciptakan ekosistem ekonomi sirkuler di pedesaan.

Tantangan dan Solusi bagi Energi Masa Depan

Meskipun potensi biomassa sangat besar, transisi menuju energi berbasis tanaman tentu tidak lepas dari tantangan nyata, seperti kepastian keberlanjutan rantai pasok bahan baku serta potensi konflik pemanfaatan lahan dengan sektor pangan. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, hadirnya Sistem Pertanian Terpadu Tanaman Energi menjadi solusi holistik untuk masa depan. Solusi pertama yang diterapkan adalah dengan memanfaatkan lahan-lahan marginal atau kurang produktif, sehingga tidak mengganggu areal pertanian pangan utama masyarakat.

Solusi keberlanjutan berikutnya terletak pada pemberdayaan hulu ke hilir bagi para petani lokal. PLN Energi Primer Indonesia tidak hanya datang untuk menanam, tetapi juga menyerahkan bantuan berupa 10.000 bibit tanaman energi, bibit jagung unggul untuk ditanam diselang-seling, hingga penyediaan peralatan pertanian pendukung. 

Pendekatan ini memastikan petani mendapatkan penghasilan jangka pendek dari tanaman pangan sekaligus tabungan ekonomi jangka panjang dari kayu energi. Pengolahan kayu menjadi pasokan biomassa PLTU pada akhirnya menciptakan rantai nilai baru yang menyerap tenaga kerja lokal, membuktikan bahwa transisi energi hijau dapat berbanding lurus dengan pengentasan kemiskinan.

Menatap Masa Depan Energi Hijau

Inisiasi di Desa Kamal menjadi gambaran nyata dari cita-cita besar bangsa dalam mewujudkan kemandirian energi nasional. Ketika batang-batang gamal dan kaliandra tumbuh menjulang di tanah Brebes, mereka tidak hanya menyerap emisi karbon dari udara, tetapi juga sedang merajut masa depan energi Indonesia yang lebih bersih, mandiri, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.

Editor: Kastolani Marzuki

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut