Minyak Bantuan Pangan di Klaten Berbau Solar dan Keruh, Warga Serbu Kantor Desa
KLATEN, iNews.id – Ratusan warga Desa Wonoboyo, Kecamatan Jonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berbondong-bondong mendatangi kantor desa setempat, Kamis (25/6/2026).
Kedatangan mereka bertujuan untuk mengembalikan sekaligus menukarkan minyak goreng dari program bantuan pangan pemerintah yang dinilai tidak layak konsumsi karena berbau menyengat dan berwarna keruh.
Ratusan warga yang didominasi oleh ibu rumah tangga ini membawa jeriken atau botol minyak goreng ukuran 2 literan yang mereka terima dalam program bantuan pangan pada 10 Juni 2026 lalu.
Keluhan seragam dilontarkan oleh warga terkait kualitas minyak goreng gratis tersebut. Berbeda dari minyak kemasan pada umumnya, minyak bantuan ini memiliki warna yang tidak jernih, agak kehitaman, dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Sekretaris Desa Wonoboyo, Cahyoko, membenarkan adanya aksi pengembalian massal tersebut. Berdasarkan laporan dari warga yang datang sejak Selasa siang, bau minyak goreng tersebut sangat mengganggu dan tidak wajar untuk bahan masakan.
"Penukaran ini terpaksa dilakukan karena ada laporan dari warga bahwa minyaknya berbau seperti solar, bahkan ada beberapa yang baunya mirip minyak tanah. Selain itu warnanya memang keruh tidak jernih," ujar Cahyoko.
Sejumlah warga mengaku sempat mencoba menggunakan minyak tersebut untuk menggoreng. Namun baru sekali pakai, minyak langsung berubah hitam pekat dan mengeluarkan bau sangit yang tajam sehingga terpaksa langsung dibuang. Beruntung, hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak gangguan kesehatan atau keracunan akibat penggunaan minyak tersebut.
Di Desa Wonoboyo sendiri, terdapat 626 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tersebar di 11 RW dan 27 RT. Berdasarkan aturan bantuan pangan, setiap Kepala Keluarga (KK) seharusnya mendapatkan jatah 4 liter minyak goreng yang dibagi ke dalam dua kemasan dua literan.
Menurut Cahyoko, masalah ini ternyata tidak hanya terjadi di desanya saja, melainkan meluas dan menimpa seluruh desa yang berada di wilayah Kecamatan Jogonalan.
"Kejadian serupa (minyak berbau dan keruh) ternyata juga dialami oleh seluruh desa di wilayah Kecamatan Jogonalan," katanya.
Pihak pemerintah desa memastikan bahwa seluruh minyak goreng yang bermasalah tersebut akan ditarik dan diganti dengan yang baru oleh pihak penyedia (vendor) komoditas bantuan. Penukaran berlaku adil untuk semua minyak bantuan, baik yang masih utuh tersegat maupun yang sudah sempat dituang atau digunakan oleh warga.
Editor: Kastolani Marzuki