Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Padat, ASDP Ungkap Biang Keroknya
Advertisement . Scroll to see content

Peran Strategis ASDP Jaga Konektivitas Jawa-Bali di Tengah Tekanan Arus Logistik

Jumat, 02 Oktober 2026 - 22:38:00 WIB
Peran Strategis ASDP Jaga Konektivitas Jawa-Bali di Tengah Tekanan Arus Logistik
Kemacetan parah di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Antrean truk dan kendaraan pribadi mengular hingga 5 km. (Foto: iNews)
Advertisement . Scroll to see content

BANYUWANGI, iNews.id – Jalur penyeberanganKetapang-Gilimanuk lebih dari sekadar penghubung antara Pulau Jawa dan Bali. Jalur ini memainkan peran penting dalam pergerakan masyarakat serta distribusi logistik yang menghubungkan dua daerah dengan kegiatan ekonomi yang tinggi. 

Karena itu, jika ada gangguan pada layanan, efeknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang. Antrean kendaraan dapat memperlambat perjalanan masyarakat, distribusi barang, serta meningkatkan biaya operasional kendaraan logistik.

Kondisi ini tampak pada akhir September 2026. Antrean kendaraan sempat terpantau mengular sepanjang sekitar 5 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk. Pada malam sebelumnya, antrean tersebut dilaporkan mencapai panjang sekitar 10 kilometer. 

"Kami tertahan berjam-jam di jalan. Kerugian sangat besar bagi sopir logistik, mulai dari waktu pengiriman, tenaga, sampai pembengkakan biaya operasional dan uang jalan," kata salah seorang sopir truk, Ibnu, Minggu (27/9/2026). 

Keadaan ini dipengaruhi beberapa faktor, termasuk proyek peningkatan kapasitas Dermaga Movable Bridge (MB) 2 di Gilimanuk dan kondisi cuaca di Selat Bali yang memengaruhi pengaturan muatan kapal demi keselamatan pelayaran.

Kepadatan yang terjadi di Ketapang-Gilimanuk menunjukkan bahwa menjaga konektivitas antarpulau tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal. 

Pelabuhan Gilimanuk mengalami kemacetan parah, Selasa (27/6/2023) sore. (Foto: iNews TV/Nyoman Sudika)
Pelabuhan Gilimanuk mengalami kemacetan parah, Selasa (27/6/2023) sore. (Foto: iNews TV/Nyoman Sudika)

ASDP mencatat pada periode 30 Agustus hingga 5 September 2026, terdaftar 43. 327 kendaraan yang lewat di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Jumlah ini meningkat sebesar 8 persen dibandingkan waktu yang sama di tahun sebelumnya.

Di sisi lain, pada periode yang sama, jumlah kapal yang beroperasi tercatat sebanyak 176 kapal, mengalami penurunan sebesar 11 persen secara tahunan, sementara total perjalanan kapal mencapai 1. 210 trip, berkurang 21 persen. 

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo menyatakan, kepadatan tidak bisa hanya dinilai dari perbandingan jumlah kendaraan dengan kapal.

Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas efektif layanan, terutama untuk kendaraan logistik.

“Kepadatan di Ketapang-Gilimanuk tidak hanya dapat ditinjau dari segi jumlah kendaraan atau kapal. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi kapasitas layanan yang efektif, terutama untuk kendaraan logistik,” kata Heru dalam keterangan resminya, Senin (28/9/2026).

ASDP Tingkatkan Armada

Menanggapi kondisi tersebut, ASDP melakukan penyesuaian metode operasi dengan cepat. Pada 29 September 2026, sebanyak 27 kapal dioperasikan dalam rute Ketapang-Gilimanuk untuk mempercepat pengurangan antrean di Ketapang.

Armada tersebut mencakup 14 kapal reguler yang beroperasi dari Dermaga MB, sembilan kapal reguler dari Dermaga LCM, dan empat kapal bantuan dari Tanjung Balai (TBB).

Metode perjalanan juga diperkuat menjadi hingga delapan trip, mempertimbangkan situasi antrean serta kapasitas setiap kapal. 

Heru menuturkan, semua kapasitas yang ada akan terus dimaksimalkan tanpa mengabaikan aspek keselamatan. “Kami menyadari bahwa antrean dan waktu tunggu yang terjadi berdampak langsung pada perjalanan masyarakat dan distribusi logistik,” ungkap Heru. 

Kendaraan di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk naik 8 persen, tetapi jumlah trip kapal anjlok 21 persen. (Foto: Dok. ASDP)
Kendaraan di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk naik 8 persen, tetapi jumlah trip kapal anjlok 21 persen. (Foto: Dok. ASDP)

General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menjelaskan, penguraian antrean memerlukan pengaturan muatan yang tepat karena masing-masing kendaraan yang dilayani memiliki karakteristik yang berbeda.

“Kami terus berupaya mempercepat dan meningkatkan efektivitas layanan. Namun, setiap kendaraan yang masuk ke dalam kapal harus tetap disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik kapal serta mengikuti ketentuan keselamatan,” ujar Media.

Pengaturan ini meliputi alur kendaraan, proses pemuatan, jadwal keberangkatan, hingga pembongkaran di pelabuhan tujuan. Penempatan kendaraan ke kapal juga disesuaikan dengan jenis, ukuran, muatan, dan karakteristik kapal.

Masalah kepadatan ini sekaligus menyoroti pentingnya peningkatan infrastruktur. ASDP sebelumnya menyampaikan peningkatan kapasitas Dermaga 2 Gilimanuk merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk memperkuat keandalan layanan antara Jawa dan Bali.

Kapasitas dermaga telah ditingkatkan dari 30 ton menjadi 50 ton. Proses peningkatan kapasitas ini sudah berlangsung sejak 21 Agustus 2026. 

ASDP juga sedang merencanakan pengembangan dermaga dan fasilitas tambahan untuk meningkatkan fleksibilitas operasional, terutama pada saat trafik meningkat atau pada periode puncak mobilitas.

Karena itu, untuk menangani kepadatan, tidak hanya dengan mengerahkan kapal tambahan. Kapasitas dermaga, area penyangga, pola operasi, kondisi cuaca, dan pengaturan kendaraan harus dipadukan secara menyeluruh.

Konektivitas dan Logistik

Peran ASDP dalam menjaga konektivitas menjadi semakin vital karena jalur penyeberangan tidak hanya melayani perjalanan manusia.

Kendaraan logistik yang melintasi rute Ketapang-Gilimanuk membawa berbagai kebutuhan masyarakat dari Jawa ke Bali dan sebaliknya. Gangguan pada jalur ini dapat mempengaruhi waktu pengiriman dan juga biaya operasional.

Bagi ASDP, tantangan yang ada di Ketapang-Gilimanuk merupakan bagian dari upaya untuk memastikan layanan penyeberangan tetap berjalan dalam berbagai kondisi.

Optimalisasi armada, penyesuaian pola perjalanan, pengaturan muatan, peningkatan fasilitas, serta koordinasi dengan pihak regulator dan aparat merupakan alat yang digunakan untuk menjaga kelancaran jalur tersebut.

Di sisi lain, keselamatan tetap menjadi faktor utama dalam setiap keputusan operasional yang diambil. ASDP sebelumnya menekankan bahwa perubahan cuaca dan kondisi perairan di Selat Bali bisa memerlukan penyesuaian pola layanan secara situasional.

Pada akhirnya, konektivitas laut nasional bukan hanya berbicara tentang kecepatan kapal dalam membawa kendaraan dari satu pulau ke pulau lainnya. Lebih dari itu, konektivitas juga berkaitan dengan kesinambungan mobilitas masyarakat, kelancaran distribusi logistik, dan keterhubungan aktivitas ekonomi antardaerah.

Dalam konteks ini, peran ASDP sangat penting dalam memastikan jalur penyeberangan tetap menjadi penghubung yang aman, dapat diandalkan, dan mampu beradaptasi pada dinamika kebutuhan transportasi nasional.

Editor: Kastolani Marzuki

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut