Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Heboh! Ribuan Ikan Mati Mengambang di Irigasi Karawang, Ada Apa?
Advertisement . Scroll to see content

Ribuan Ikan Nila dan Bawal Mati Mendadak di Banjar Kalsel, Ada Apa?

Rabu, 08 Juli 2026 - 12:40:00 WIB
Ribuan Ikan Nila dan Bawal Mati Mendadak di Banjar Kalsel, Ada Apa?
Ribuan ikan nila dan bawal mati mendadak di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, membuat pembudi daya mengalami kerugian ratusan juta rupiah. (Foto: iNews TV/Sairi)
Advertisement . Scroll to see content

BANJAR, iNews.id - Ribuan ikan nila dan bawal mati mendadak di Desa Mali-Mali dan Desa Sungai Arfat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Peristiwa ini membuat para pembudi daya ikan jala apung mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Kematian ikan tersebut diduga terjadi akibat menurunnya kualitas air sungai. Kondisi air yang buruk membuat ikan-ikan di dalam keramba kehilangan daya tahan hingga akhirnya mati dalam jumlah besar.

Fenomena ini telah berlangsung selama sepekan terakhir. Namun, kematian ikan paling parah terjadi pada Selasa (7/7/2026) ketika ribuan ikan dalam keramba milik warga ditemukan dalam kondisi lemas hingga mati.

Kerugian besar dialami pembudi daya ikan nila di Desa Sungai Arfat. Salah satu pembudidaya, Ridhawati, mengatakan sekitar 20 ton ikan nila miliknya mati akibat kondisi air sungai yang memburuk.

Akibat kejadian tersebut, dia mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp500 juta. Bahkan, nilai kerugian dapat meningkat hingga Rp1 miliar apabila kondisi air tidak segera membaik dalam beberapa hari ke depan.

"Harapannya mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah," ujar Ridhawati, Rabu (8/7/2026).

Tidak hanya ikan nila, dampak buruk kualitas air juga dirasakan pembudidaya ikan bawal di Desa Mali-Mali. Sebanyak 7,5 ton ikan bawal milik warga mati mendadak.

Salah satu pembudi daya ikan bawal, Rofii Hamdi, mengaku terpaksa menyelamatkan ikan yang masih hidup dengan cara memanen lebih awal. Ikan tersebut kemudian dijual meski dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar.

"Ini yang masih hidup kami boks lalu bawa ke pasar untuk dijual. Kami jual seadanya yang penting dari sana menerima dulu. Yang sudah mati kami buang saja," katanya.

"Ini kalau dihitung kerugian sampai Rp200 jutaan," ucapnya lagi.

Para pembudi daya kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sisa ikan yang masih bertahan hidup. Mereka memilih memanen lebih cepat agar kerugian tidak semakin besar.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Banjar segera mengambil langkah terkait kondisi sungai yang menjadi sumber utama budidaya ikan. Pembudidaya meminta adanya perhatian dan perbaikan tata kelola irigasi agar kualitas air kembali normal.

Mereka khawatir jika kondisi ini terus berlangsung, kerugian akan semakin besar dan mengancam keberlangsungan usaha budi daya ikan masyarakat.

Editor: Donald Karouw

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut