Ribuan Ayam Mendadak Mati di Sinjai, Hasil Lab Ungkap Virus Influenza A
SINJAI, iNews.id - Kematian ribuan ayam secara massal di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dipastikan berkaitan dengan flu burung atau Avian Influenza (AI). Sebanyak 2.303 ekor ayam mati di empat kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara dalam kurun waktu hampir dua pekan.
Kasus kematian unggas tersebut dilaporkan sejak 23 September hingga 5 Oktober 2026. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Sinjai mencatat kejadian ini berdampak terhadap 101 kepala keluarga.
Sampel ayam yang mati kemudian diperiksa Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros. Hasil pemeriksaan menemukan material genetik virus Influenza A pada sampel yang diuji.
Kepala DPKH Kabupaten Sinjai Syamsul Alam mengatakan, kematian unggas tersebar di Kelurahan Balangnipa, Bongki, Lappa, dan Biringere.
Dari jumlah tersebut, 571 ekor ayam mati di Balangnipa, 84 ekor di Bongki, 815 ekor di Lappa, dan 833 ekor di Biringere.
“Temuan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya material genetik virus Influenza A pada sampel yang diperiksa. Berdasarkan hasil tersebut, kematian ayam di wilayah terdampak disebabkan oleh Avian Influenza atau AI,” kata Syamsul, dikutip dari iNews Celebes, Selasa (6/10/2026).
DPKH Kabupaten Sinjai langsung melakukan pengendalian untuk mencegah virus menyebar ke wilayah lain. Salah satu langkah yang dilakukan ialah menyemprotkan desinfektan di 109 titik pada empat kelurahan terdampak.
Masyarakat, terutama peternak, diminta tidak mengabaikan kematian unggas maupun gejala penyakit yang muncul pada ayam. Pelaporan secara cepat diperlukan agar petugas dapat segera melakukan penanganan.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya peternak, untuk segera melaporkan apabila menemukan kejadian penyakit dengan gejala serupa kepada DPKH atau Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) terdekat,” katanya.
Peternak juga diminta memisahkan unggas yang sakit dari ayam sehat. Sementara bangkai ayam harus ditangani dengan benar dan tidak dibuang sembarangan.
“Bangkai ayam harus dikubur atau dibakar untuk mencegah potensi penyebaran penyakit,” ucapnya.
Upaya pencegahan juga dilakukan dengan memperketat biosekuriti di lingkungan peternakan. Peternak diminta menjaga kebersihan kandang dan peralatan, termasuk membersihkannya menggunakan deterjen atau sabun sebelum dilakukan penyemprotan desinfektan.
Hewan yang baru dibeli juga dianjurkan menjalani karantina selama 14 hari sebelum digabungkan dengan unggas lain. Vaksinasi rutin pada ayam sehat serta menjaga sanitasi kandang dan lingkungan juga menjadi bagian dari pencegahan.
DPKH Kabupaten Sinjai masih memantau wilayah terdampak dan melakukan pengendalian untuk menekan penyebaran AI. Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi populasi unggas sekaligus mencegah dampaknya terhadap usaha peternakan warga.
Editor: Kurnia Illahi