JAKARTA, iNews.id – Performa tim bulu tangkis Indonesia di paruh pertama tahun 2025 menuai sorotan. Minimnya gelar dari turnamen bergengsi membuat banyak pihak bertanya-tanya.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum PBSI, Fadil Imran, angkat bicara dan menjelaskan alasan di balik penurunan prestasi tersebut.
Penyebab Jan Olde Riekerink Optimistis Dewa United Menang atas Manila Digger di Perempatfinal AFC Challenge League 2025-2026
Sejak Januari hingga Juni 2025, tim Merah Putih baru mengoleksi dua gelar juara, masing-masing dari Thailand Masters dan Taiwan Open, yang notabene merupakan turnamen level BWF Super 300.
Sementara itu, pada ajang prestisius seperti Piala Sudirman 2025 dan Badminton Asia Championship 2025, Indonesia belum berhasil meraih satu pun trofi.
Indonesia Open 2025: Jonatan Christie Tumbangkan Pebulu Tangkis Singapura
Fadil tak menampik adanya penurunan capaian, namun menekankan bahwa regenerasi atlet adalah prioritas utama saat ini.
“Kalau tanya saya, saya tentu ingin juara terus. Cuma kan saya harus objektif dengan situasi PBSI sekarang,” ujar Fadil di Jakarta, Rabu (4/6/2025).
Proses Regenerasi Jadi Fokus Utama PBSI
Fadil menjelaskan bahwa PBSI tengah menggenjot pembinaan atlet muda sebagai pondasi jangka panjang menuju kejayaan bulu tangkis Indonesia di masa depan. Menurutnya, publik belum melihat proses panjang yang sedang dijalankan federasi.
“Saya menyiapkan junior ini, kan tidak kelihatan prosesnya hingga muncul Jafar, Felisha, Ubed, Putri KW, Ester, dan lain-lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fadil menyebut regenerasi sempat terhenti di masa lalu. Kini, PBSI fokus membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan, termasuk menyempurnakan pelatihan dan struktur kejuaraan untuk menciptakan atlet kompetitif di tingkat dunia.
“Regenerasi itu hal penting. Ini yang sempat terputus kemarin. Selama enam bulan kami tidak terlihat karena sedang memoles yang junior untuk 4-8 tahun ke depan. Fokus kami ke regenerasi dan penyempurnaan sistem kepelatihan dan kejuaraan,” tegasnya.
Target Jangka Panjang: Olimpiade dan Dominasi Masa Depan
Proses pembibitan ini, kata Fadil, bukan hanya untuk memenuhi kalender jangka pendek, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang menuju Olimpiade, termasuk Olimpiade 2032.
“Iya termasuk itu juga dan olimpiade selanjutnya tahun 2032. Makanya tidak ada yang instan. Semua butuh proses. Kalau ditanya kenapa tidak juara? Ya saya mau juara,” ucap Fadil.
Editor: Reynaldi Hermawan