Hector Souto Bongkar Masalah Futsal Indonesia: Bukan Minim Bakat, Tapi...
JAKARTA, iNews.id - Hector Souto menegaskan futsal Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi menghadapi persoalan serius pada sistem pengembangan pemain.
Pelatih Timnas Futsal Indonesia itu menyampaikan pandangannya saat menjalankan program deteksi talenta di berbagai daerah. Program tersebut dijalankan bersama Federasi Futsal Indonesia (FFI) untuk membangun skuad Timnas Futsal Indonesia U-17.
Pencarian bakat dilakukan secara luas dengan menggandeng Asosiasi Futsal Provinsi (AFP). Program ini menyasar pemain muda dari berbagai wilayah, mulai dari Aceh hingga Sorong.
Para pemain yang terpilih akan mendapat kesempatan tampil dalam Mini World Cup Futsal yang digelar di Spanyol pada 24 hingga 28 Juni 2026. Ajang ini menjadi bagian dari proses pembinaan menuju level internasional.
Jadwal dan Link Nonton Pro Futsal League 2026: Duel Sengit Blacksteel dan Unggul FC
Sistem Jadi Sorotan Utama
Dalam proses pencarian tersebut, Hector Souto melihat potensi besar dari pemain Indonesia. Dia menilai kualitas individu bukan menjadi masalah utama.
"Indonesia tidak punya masalah talenta. Indonesia punya masalah sistem," kata Souto dalam unggahan akun Instagram pribadinya (@souto.h), Selasa (21/4/2026).
Timnas Futsal Indonesia Target Lolos Piala Dunia 2028, FFI Siapkan Program Besar
Dia menjelaskan pengembangan pemain di Indonesia sering terlambat dimulai. Menurut dia, pembinaan ideal harus dilakukan sejak usia dini, bukan saat pemain sudah memasuki usia 17 tahun.
"Sementara negara lain mengembangkan pemain sejak usia 7 tahun, di sini kita sering tiba di level U-17 dengan harus mulai dari nol; mencari pemain, menilai pemain dengan cepat, dan mengambil keputusan dalam waktu singkat," tutur Souto.
Timnas Futsal Indonesia Tolak Naturalisasi, FFI Bongkar Strategi Regenerasi Besar
Kondisi tersebut membuat Indonesia kehilangan fase penting dalam pembinaan pemain. Padahal, usia remaja seharusnya menjadi tahap penyempurnaan kemampuan.
"Pemain dibentuk sejak usia 9, 12, 15 tahun. Lalu disempurnakan setelahnya," ujar Souto.
Dia juga menyoroti sistem di Eropa yang sudah berjalan lebih matang. Menurut dia, ada empat faktor utama yang membuat futsal di kawasan tersebut berkembang pesat.
Empat faktor tersebut meliputi kompetisi berjenjang sesuai kelompok usia, pemantauan berkelanjutan terhadap pemain lokal, sistem deteksi talenta yang lebih baik, serta transisi yang jelas menuju level elit.
Souto menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di level tertinggi futsal dunia. Namun, tanpa sistem yang terstruktur, potensi tersebut sulit berkembang maksimal.
"Indonesia memiliki potensi besar. Tetapi potensi tanpa struktur telah terbuang selama puluhan tahun," ucap Souto.
Dia berharap program deteksi talenta yang sedang berjalan dapat menjadi langkah awal perubahan. Selain itu, peran AFP dinilai penting untuk memastikan pembinaan berjalan berkelanjutan.
"Saatnya benar-benar mengaktifkan sistem AFP. Bukan hanya untuk hari ini. Untuk 10 tahun ke depan," imbuhnya.
Editor: Reynaldi Hermawan