Insinyur Ferrari Bongkar Perbedaan Mencolok Schumacher dan Hamilton
JAKARTA, iNews.id – Perbedaan Michael Schumacher dan Lewis Hamilton di Ferrari akhirnya dibongkar langsung oleh insinyur yang pernah bekerja dengan dua legenda Formula 1 tersebut.
Jock Clear, performance engineer Ferrari, mengungkap sudut pandang internal tim terkait karakter dan pendekatan dua juara dunia tujuh kali itu. Pengakuan ini muncul di tengah sorotan besar terhadap Lewis Hamilton yang bersiap menghadapi musim krusial Formula 1 2026 bersama Scuderia Ferrari.
Hamilton menatap musim 2026 dengan tekanan tinggi setelah menjalani kampanye terburuk sepanjang kariernya pada 2025. Dia kalah telak 18-3 dalam duel internal melawan Charles Leclerc dan gagal meraih satu podium, sementara pembalap asal Monako tersebut mengoleksi tujuh kali finis tiga besar.
Meski hasil balapan mengecewakan, Hamilton sempat mencuri perhatian saat tes pramusim di Barcelona. Dia mencatatkan waktu tercepat 1:16.554, sinyal awal kebangkitan jelang musim baru.
Bukan Persib, Cyrus Margono Justru Resmi Gabung Persija
Di luar lintasan, namanya juga ramai diperbincangkan akibat kabar kedekatan dengan bintang reality show Amerika Serikat, Kim Kardashian.
Saat Hamilton resmi menandatangani kontrak dengan Ferrari, publik berharap dia mengulang dampak besar seperti Michael Schumacher. Legenda asal Jerman tersebut sukses mengakhiri penantian panjang Ferrari selama 21 tahun tanpa gelar juara dunia pembalap.
Persija Resmi Rekrut Mantan Tandem Lionel Messi
Namun, perjalanan Schumacher juga tidak instan. Dia membutuhkan empat musim sebelum mempersembahkan gelar pertamanya bersama Ferrari. Perbandingan ini membuat musim 2026 disebut sebagai fase penentuan bagi Hamilton, terutama setelah performa 2025 dinilai jauh dari ekspektasi.
Diam-Diam Gabung Persija, Mauro Zijlstra Akui Shayne Pattynama Lebih Dulu Menghubunginya
Berbicara melalui Casino Hawks, Jock Clear menepis anggapan kegagalan instan terhadap Hamilton.
“Saya mengingatkan orang-orang saat Michael Schumacher datang ke Ferrari, tim membutuhkan lima tahun sebelum memenangkan apa pun,” ujar Clear.
Mauro Zijlstra Akui Terima Pinangan Persija Jakarta usai Gagal Dapat Klub Eropa
“Proses itu tidak terjadi dalam semalam, dan saya sempat mengatakan ke beberapa orang di pertengahan musim, saya tahu Lewis benar-benar mengalami masa sulit tahun lalu menghadapi beratnya tantangan,” lanjutnya.
Clear kemudian memaparkan perbedaan paling mencolok saat bekerja dengan Schumacher dan Hamilton, seperti tertuang dalam buku Simon Lazenby berjudul Pressure yang terbit pada 2025. Menurut dia, Schumacher sangat aktif membentuk struktur tim sesuai keinginannya.
“Michael memastikan kepala tim, direktur teknis, dan semua orang di sekitarnya adalah orang-orang yang dia inginkan. Lewis mengambil pendekatan sebaliknya,” jelas Clear.
“Dia lebih selektif, dia meninjau situasi, lalu jika merasa hanya bisa mengendalikan ini, ini, dan ini, dia memilih melakukan hal-hal tersebut dengan sempurna,” sambungnya.
Clear juga menyoroti perbedaan sisi emosional keduanya. “Saya pikir Michael lebih rendah hati saat tiba di Mercedes dan memberi perhatian besar pada sisi emosional tim, sedangkan Lewis fokus bersikap klinis,” ujarnya.
“Orang mungkin mengira sebaliknya. Michael menggunakan emosinya untuk memengaruhi tim dari dalam kokpit. Lewis hanya fokus mengemudi dan mengelolanya dari dalam dirinya,” tutup Clear.
Dengan pendekatan yang kontras ini, musim 2026 menjadi ujian besar bagi Hamilton di Ferrari. Apakah gaya klinisnya mampu membawa Scuderia kembali ke puncak, atau tekanan justru kian membesar, akan terjawab di lintasan.
Editor: Reynaldi Hermawan