Jelang Asian Games 2026, Tim Bulutangkis Indonesia Langsung Tancap Gas di Jepang
TOKYO, iNews.id – Tim bulutangkis Indonesia mulai memanaskan persiapan menuju Asian Games 2026 setelah menggelar latihan perdana di NTT Central Training Center, Chofu, Tokyo, Senin (14/9/2026). Selain menjaga kondisi fisik, sejumlah pemain membawa misi kebangkitan setelah hasil kurang maksimal pada edisi sebelumnya.
Latihan perdana tersebut menjadi bagian dari program adaptasi skuad Merah Putih sebelum tampil di Asian Games 2026 yang berlangsung pada 20-29 September mendatang. Arena latihan di Tokyo merupakan markas klub bulutangkis Jepang, NTT East.
Fokus utama latihan pertama adalah mengembalikan kondisi pemain sekaligus menjaga performa setelah menjalani rangkaian pertandingan sebelumnya. Tim pelatih tidak langsung memberikan latihan berat agar atlet bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di Jepang.
Pelatih tunggal putri Imam Tohari melihat kondisi para pemain cukup baik pada sesi latihan awal. Dia bahkan mulai meningkatkan intensitas latihan agar para atlet bisa semakin siap menghadapi pertandingan.
"Di hari pertama kondisi tunggal putri saya rasa sangat bagus semua. Makanya tadi intensitas latihannya sedikit saya naikkan agar hari-hari berikutnya semakin membaik," ujar Imam Tohari kepada tim Humas dan Media PP PBSI.
Imam menjelaskan latihan difokuskan pada pukulan dan pergerakan di lapangan dengan kecepatan sedang. Program tersebut dibuat agar pemain dapat beradaptasi sebelum memasuki fase pertandingan.
"Programnya ada pukulan-pukulan dan pergerakan di lapangan dengan speed yang sedang biar besok sudah bisa lebih biasa," tambah Imam.
Sementara itu, pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menyambut Asian Games 2026 dengan motivasi lebih besar. Ajang di Nagoya menjadi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki hasil setelah pengalaman kurang memuaskan pada Asian Games Hangzhou.
Leo/Daniel mengaku suasana latihan pertama di Jepang berjalan positif. Mereka mulai membangun kekompakan bersama seluruh anggota tim Indonesia.
"Hari ini latihannya cukup baik, programnya masih maintain latihan kami yang di Indonesia kemarin. Suasana di sini enak dan kebersamaan timnya mulai terbangun. Semoga terus positif dari hari ke hari," ujar Daniel.
Pasangan tersebut menjadikan kegagalan di Asian Games Hangzhou sebagai bahan evaluasi. Mereka bertekad tampil lebih berani dan tidak mengulangi kesalahan yang sama saat bertanding di Jepang.
"Kegagalan di Asian Games Hangzhou kami jadikan pelajaran dan pengalaman. Kami harus perbaiki kesalahan, jangan diulangi lagi. Di Nagoya nanti kami harus tampil lebih berani," kata Leo.
Kepercayaan diri Leo/Daniel juga meningkat setelah mereka membuat kejutan dengan mengalahkan pasangan ganda putra nomor satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, pada babak pertama China Masters beberapa waktu lalu.
Namun, mereka sadar tantangan di Asian Games 2026 tidak hanya datang dari satu pasangan. Persaingan sektor ganda putra tetap ketat sehingga setiap pertandingan harus dipersiapkan dengan serius.
Selain kesiapan teknis, tim bulutangkis Indonesia juga mendapat keuntungan dari kondisi cuaca di Jepang. Imam Tohari menilai suhu Tokyo dan Nagoya yang berada di kisaran 25 derajat Celsius cukup ideal bagi atlet Indonesia.
"Dengan cuaca di Tokyo dan nanti di Nagoya yang tidak terlalu terik dan juga tidak terlalu dingin. Dengan kisaran suhu 25 derajat Celsius itu cocok dengan atlet-atlet kita jadi seharusnya secara adaptasi tidak akan menjadi masalah besar," ujar Imam.
Dengan persiapan yang semakin matang, tim bulutangkis Indonesia berharap mampu tampil maksimal di Asian Games 2026. Perjalanan menuju podium juara dimulai dari adaptasi dan latihan keras di Jepang.
Editor: Abdul Haris