Kisah Inspiratif Lewis Hamilton: Dibully Sejak Bocah hingga Jadi Raja F1
BERLIN, iNews.id - Siapa yang tak kenal dengan sosok Lewis Hamilton. Dia merupakan pria Inggris yang berhasil merajai F1 dalam sedekade terakhir.
Lewis Hamilton sejauh ini sudah meraih juara dunia tujuh kali. Rinciannya 2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020.
Tapi karier gemilang Lewis Hamilton di dunia balap mobil tak didapatkan dengan mudah. Bos Mercedes Toto Wolff menceritakan bagaimana sang rider melewati masa-masa sulit.
Saat masih kecil, dia harus bekerja keras untuk menjadi pembalap. Perjuangan Lewis Hamilton makin berat karena sering mendapat intimidasi lantaran memiliki kulit hitam.
Hasil Liga Futsal Profesional: Tim Atta Halilintar Dibantai Bintang Timur Surabaya

“Ketika Lewis masih kecil, dia mendapat banyak hinaan saat berada di lintasan karting,” kata Wolff dikutip dari RN 365, Minggu (9/1/2022).
Catat! Jadwal Timnas Indonesia Vs Bangladesh: Digelar Dua Leg di Bali
"Orang tua kulit putih melarang anak-anak mereka untuk berinteraksi dengannya; itu pasti meninggalkan bekas luka yang besar juga padanya," ucapnya.
"Tapi baginya, balapan adalah katup untuk menunjukkan kepada semua orang (kemampuannya), dan masih begitu," ujarnya.
Pakar Sepak Bola Malaysia Sebut 2 Pemain Indonesia Bisa Guncang Liga Negeri Jiran, Siapa Saja?
Tapi ada satu hal yang bikin salut Wolff. Lewis Hamilton tak pernah lelah mengejar mimpinya.
Link Live Streaming Venezia Vs AC Milan di RCTI+, Kans I Rossoneri Rajai Singgasana
Ribuan hinaan yang menerpa dirinya tak membuat mentalnya jatuh. Sebaliknya, tekadnya untuk menjadi pembalap F1 makin bulat.
Namun kini Lewis Hamilton dikabarkan bakal pensiun dan tak ikut F1 2022 di usianya yang kini sudah 37 tahun. Kabar tersebut muncul setelah gelar juara dunia musim lalu direbut Max Verstappen. Tapi Wolff berharap itu hanya rumor semata.
"Saya sangat berharap Lewis terus membalap, karena dia pebalap terhebat sepanjang masa," katanya.
“Saya pikir sebagai pembalap, hatinya akan berkata, 'Saya harus melanjutkan', karena dia berada di puncak permainannya."
Editor: Reynaldi Hermawan