Ancelotti Buka Peluang Panggil Neymar dan Thiago Silva ke Piala Dunia 2026
RIO DE JANEIRO, iNews.id - Carlo Ancelotti menegaskan dirinya bukan sekadar pelatih yang mengandalkan hubungan dengan pemain, setelah muncul anggapan dia hanya seorang man-manager. Dia menegaskan memahami seluruh aspek permainan sepak bola secara mendalam.
Dalam wawancara bersama The Guardian, pelatih tim nasional Brasil itu membahas perjalanan karier, perubahan sepak bola modern, hingga proyek besar menuju Piala Dunia 2026. Dia juga menyinggung sejumlah pemain kunci seperti Vinicius Junior, Neymar, dan Thiago Silva.
Ancelotti kini memasuki musim ke-30 sebagai pelatih profesional. Di usia 66 tahun, dia juga dikabarkan akan memperpanjang kontrak bersama Brasil dan berpotensi menjadi pelatih kepala tim nasional tertua dalam sejarah negara tersebut.
Meski begitu, Ancelotti menegaskan dirinya belum berniat berhenti dari dunia sepak bola. Dia menyebut sepak bola sudah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan.
Carlo Ancelotti Sebut Pemain Paling Jenius yang Pernah Dilatih, Bukan Zinedine Zidane
“Aku tidak bisa hidup tanpa sepak bola. Kalau sudah tidak berada di lapangan, aku akan tetap menjadi penonton yang menikmati pertandingan,” kata dia.
Dia menambahkan, menikmati pertandingan sepak bola seperti menonton film, sebuah hiburan yang tidak pernah membosankan baginya.
Momen Ancelotti Pesta Bir Bareng Ronaldo jelang Piala Dunia 2026
“Bagi saya, menonton pertandingan di televisi bukan pekerjaan. Itu sebuah kesenangan. Saya sangat suka film. Sepak bola bagi saya seperti menikmati sebuah film. Rasanya sama. Saat saya berhenti bekerja di sepak bola, saya tetap akan menontonnya dengan cara yang sama, tanpa masalah,” kata dia.
Ancelotti juga menjawab anggapan yang menyebut kesuksesannya hanya karena kedekatan dengan pemain. Dia menolak keras label tersebut.
Gattuso Sebut Sosok Pelatih Panutannya, Bukan Ancelotti!
“Saya tidak tahu pasti. Mungkin itu sikap saya, cara saya memperlakukan pemain, serta rasa hormat yang saya berikan kepada mereka sebagai manusia,” kata dia.
Dia menekankan pentingnya hubungan personal dalam sepak bola modern, yang menurutnya sangat kompleks.
Piala Dunia 2026: Ancelotti Waswas Brasil Satu Grup dengan Skotlandia
“Tugas pelatih sangat sulit karena harus mengelola banyak hal. Ada hubungan dengan pemain, klub, media, dan suporter. Yang paling sulit adalah hubungan dengan manusia, dan itu juga yang paling penting,” kata dia.
Meski sering disebut lebih sebagai man-manager, Ancelotti menegaskan pandangan itu keliru.
“Saya tidak memenangkan gelar hanya karena hubungan saya dengan pemain,” kata dia.
Dia menjelaskan hubungan baik memang membantu mengeluarkan kemampuan maksimal pemain, tetapi itu hanya satu bagian dari permainan.
“Hubungan dengan pemain membantu mengeluarkan kemampuan terbaik mereka, bahkan kadang lebih dari maksimal. Tapi itu hanya satu bagian dari sepak bola. Saya tidak peduli orang menilai saya taktik atau bukan. Saya hanya tahu semua aspek permainan dengan sangat baik,” kata dia.
Ancelotti juga menyoroti perubahan besar dalam sepak bola modern sejak debut profesionalnya 50 tahun lalu. Dia menilai permainan kini jauh lebih cepat dan analitis.
“Sepak bola terus berubah. Saya berusaha beradaptasi. Sepak bola sekarang lebih analitis, lebih intens, dan lebih fisik. Beberapa taktik bertahan tidak sepenting 10 tahun lalu. Pelatih generasi baru lebih fokus pada serangan,” kata dia.
Ancelotti juga membahas perannya bersama tim nasional Brasil dan mengaku sangat mengagumi budaya sepak bola negara tersebut.
Dia menilai Brasil memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan tim nasional.
“Saya sangat suka semangat Brasil. Orang Brasil memiliki cinta khusus terhadap seragam kuning. Di negara lain, tim nasional tidak sepenting di Brasil,” kata dia.
Dia juga menyinggung nilai budaya yang dia kagumi dari Brasil.
“Brasil masih menjaga budayanya. Mereka menghargai keluarga dan agama. Di Eropa, hal itu mulai berkurang. Saya sangat mengagumi energi dan kebahagiaan masyarakat Brasil,” kata dia.
Ancelotti juga membahas peran Vinicius Junior yang dia latih di Real Madrid. Dia ingin mengurangi beban sang pemain di tim nasional.
“Vinicius memikul tanggung jawab besar untuk Brasil. Itu bisa menjadi beban. Tugas kami adalah mengurangi tekanan itu agar dia bermain dengan bebas dan penuh energi,” kata dia.
Dia menegaskan Brasil tidak boleh bergantung pada satu pemain saja.
“Dia pemain spektakuler yang bisa memenangkan pertandingan sendirian. Tapi kita tidak butuh satu bintang utama. Kita harus berpikir sebagai tim. Itu satu-satunya cara memenangkan Piala Dunia,” kata dia.
Soal Neymar, Ancelotti memberi sinyal peluang terbuka bagi sang bintang.
“Pemanggilan Neymar hanya bergantung pada dirinya. Itu tergantung apa yang dia tunjukkan di lapangan. Itu berlaku untuk semua pemain. Dengan Neymar, kami hanya menilai kondisi fisiknya karena bakatnya tidak diragukan,” kata dia.
Dia juga menyebut Thiago Silva masih masuk radar tim nasional meski usianya sudah 41 tahun.
“Thiago Silva ada dalam radar. Dia bermain sangat baik, juara liga Portugal, dan dalam kondisi fisik bagus,” kata dia.
Ancelotti menutup dengan optimisme besar terhadap skuad Brasil yang menurutnya penuh pengalaman dan kepemimpinan.
“Kami punya pemain berpengalaman seperti Alisson, Casemiro, Marquinhos, dan Raphinha. Mereka pemimpin yang memberi contoh,” kata dia.
Dia juga menegaskan ambisi besar Brasil di Piala Dunia 2026.
“Motivasi Brasil untuk juara lagi setelah 24 tahun sangat besar. Saya yakin kami akan menjalani Piala Dunia yang hebat,” kata dia.
Editor: Reynaldi Hermawan