Bek Andalan Chelsea Tetap Dukung Anti Rasisme meski Ogah Berlutut Sebelum Berlaga
LONDON, iNews.id – Bek andalan Chelsea, Marcos Alonso mengatakan bahwa dirinya tidak mau melakukan aksi berlutut sebelum pertandingan dimulai. Menurutnya, aksi tersebut sudah kehilangan kekuatannya.
Lebih lanjut pemain asal Spanyol itu menegaskan lebih suka menunjuk lambang “Tidak Ada Ruang untuk Rasisme” di lengan bajunya. Namun, dia tetap mendukung pemain lainnya tetap melakukan gestur berlutut sebelum pertandingan dimulai.
"Saya lebih suka melakukannya dengan cara ini. Ini cara saya untuk melakukannya, dan mungkin saya pikir itu kehilangan sedikit kekuatan dengan cara lain,” ucap Alonso, dilansir dari BBC, Selasa (21/9/2021).
"Saya lebih suka meletakkan jari saya ke lencana yang bertuliskan 'Tidak untuk Rasisme', seperti yang mereka lakukan di beberapa olahraga dan sepak bola di negara lain,” imbuhnya.
Meski tidak berlutut dan hanya menujukkan lambang, dia menegaskan tetap melawan tindakan aksi rasisme. Pemain berusia 30 tahun itu menyebut akan selalu mendukung dan mengecam tindakan tidak terpuji tersebut.
"Saya sepenuhnya menentang rasisme dan saya menentang setiap jenis diskriminasi," kata Alonso.
Sebagaimana diketahui, para pemain dari 20 klub Liga Inggris akan tetap melanjutkan aksi berlutut di setiap pertandingan Liga Inggris musim 2021/2022. Aksi itu dilakukan oleh tim pada musim lalu untuk menyoroti penentangan mereka terhadap rasisme setelah kematian George Floyd di Minneapolis pada Mei 2020.
Bahkan aksi berlutut ini kemudian mendapat dukungan langsung dari pihak Liga Inggris sesuai dengan keputusan yang telah dibuat. Lalu para pemain mengenakan lencana lengan 'Tidak Ada Ruang untuk Rasisme' dan ofisial pada pertandingan di baju mereka.
Kepala eksekutif Liga Inggris, Richard Masters mengatakan, Liga Inggris, klub, pemain, dan ofisial pertandingan, memiliki komitmen jangka panjang untuk mengatasi rasisme dan segala bentuk diskriminasi. Dia berkomitmen sambil menegaskan kembali bahwa Liga Inggris akan terus mendukung suara keras para pemain tentang masalah penting ini.
Editor: Dimas Wahyu Indrajaya