Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Final Piala Afrika 2025 Ricuh, Sadio Mane Muncul sebagai Penyelamat
Advertisement . Scroll to see content

Brahim Diaz Menangis usai Penalti Panenka yang Gagal Bikin Maroko Gagal Juara Piala Afrika 2025

Senin, 19 Januari 2026 - 13:45:00 WIB
Brahim Diaz Menangis usai Penalti Panenka yang Gagal Bikin Maroko Gagal Juara Piala Afrika 2025
Gelandang Timnas Maroko, Brahim Diaz. (Foto: The Independent)
Advertisement . Scroll to see content

RABAT, iNews.id – Brahim Diaz menangis usai penalti Panenka gagal yang dia eksekusi memupuskan mimpi Timnas Maroko meraih titel Piala Afrika 2025 untuk pertama kali dalam 50 tahun pada final yang ricuh melawan Timnas Senegal. Duel pamungkas itu terjadi di Stadion Rabat, Maroko, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. 

Gelandang Real Madrid itu menjadi pusat perhatian setelah mendapatkan penalti kontroversial di masa injury time babak kedua saat skor masih imbang tanpa gol. Kesempatan emas itu membuka peluang besar Maroko mengunci gelar juara di hadapan publik sendiri.

Keputusan penalti tersebut memicu kekacauan besar. Timnas Senegal bereaksi keras terhadap putusan VAR dan memilih meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Pelatih Senegal Pape Thiaw memerintahkan pemain masuk ke ruang ganti, membuat laga terhenti selama 16 menit.

Situasi baru kembali kondusif setelah kapten Timnas Senegal Sadio Mane turun tangan. Pemain senior Senegal itu membujuk rekan setimnya keluar dari terowongan dan melanjutkan pertandingan demi menyelesaikan final.


Penalti Panenka yang Mengubah Segalanya

Setelah laga dilanjutkan, Brahim Diaz maju sebagai algojo penalti. Kiper Senegal Edouard Mendy terlihat terus berbicara kepada Diaz untuk menunda eksekusi dan memengaruhi konsentrasi sang penendang.

Pada menit ke-24 masa tambahan waktu, Diaz memilih mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka. Keputusan tersebut berujung fatal karena bola melambung pelan dan langsung ditangkap Mendy tanpa kesulitan.

Kegagalan penalti itu memaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu. Momentum sepenuhnya berbalik ke Senegal yang tampil lebih tenang meski sebelumnya dilanda emosi.

Pada menit ke-94, Pape Sarr mencetak gol spektakuler lewat tembakan keras dari luar kotak penalti. Gol tersebut menjadi penentu kemenangan Senegal dan menghancurkan harapan Maroko meraih gelar Piala Afrika pertama sejak 1976.

Brahim Diaz yang ditarik keluar lebih awal di extra time terlihat sangat terpukul. Dia menangis di akhir laga dan tampak sangat terpukul saat menerima sepatu emas dari Presiden FIFA Gianni Infantino, meski menjadi top skor turnamen dengan koleksi lima gol.

Pelatih Timnas Maroko Walid Regragui menilai waktu menunggu yang panjang sebelum penalti memengaruhi kondisi mental pemainnya. 

“Dia punya banyak waktu sebelum mengambil penalti dan itu pasti mengganggunya. Tapi kami tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Itu pilihan dia, dan sekarang kami harus melihat ke depan,” ujar Regragui, dikutip The Independent. 

Edouard Mendy enggan membeberkan percakapannya dengan Diaz sebelum penalti. “Apa yang kami bicarakan? Itu urusan kami. Kami melakukannya bersama dan kami kembali bersama, itu yang terpenting. Kami bisa bangga malam ini,” ucap Mendy.

Legenda Nigeria John Obi Mikel turut menyoroti dampak psikologis momen tersebut bagi Diaz. 

“Melakukan itu merusak semua hal bagus yang sudah Brahim Diaz lakukan di turnamen ini. Dia akan sangat terpukul. Ini akan berat baginya, berminggu-minggu, berbulan-bulan,” kata Mikel kepada E4. 

Dia menambahkan, “Ini menyedihkan. Brahim Diaz tampil luar biasa, mencetak lima gol dan menjadi bintang. Sangat disayangkan melihat dia melakukan hal seperti itu. Seharusnya dia menendang keras saja.”

Editor: Abdul Haris

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut