Bukan Mantan Bintang, John Herdman Jelaskan Filosofi Kepelatihannya
JAKARTA, iNews.id – Pelatih anyar Timnas Indonesia, John Herdman, menegaskan filosofi kepelatihannya tidak lahir dari status mantan bintang lapangan. Menurutnya, dia akan berperan sebagai guru yang fokus membangun manusia di dalam dan luar sepak bola.
John Herdman resmi diperkenalkan sebagai arsitek anyar Tim Garuda pada Selasa (13/1/2026). Dia mendapat kontrak dua tahun dengan opsi perpanjangan dua tahun.
Herdman secara terbuka mengakui dia tidak pernah bermain di level tertinggi saat masih aktif sebagai pemain. Kondisi itu justru menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia kepelatihan.
“Seperti kebanyakan pelatih yang tidak pernah bermain di level tertinggi, mereka akhirnya menjadi pelatih,” ujar Herdman, dikutip dari Youtube Timnas Indonesia, Senin (19/1/2026).
Pelatih asal Inggris itu menyebut mimpi menjadi pemain profesional merupakan cita-cita banyak orang yang mencintai sepak bola. Ketika jalur sebagai pemain tidak tercapai, Herdman memilih tetap berada di dunia sepak bola lewat jalur lain yang menurutnya lebih alami.
“Saya senang bekerja dengan orang-orang. Saya senang melihat orang-orang tumbuh dan berkembang,” tutur Herdman.
Bagi Herdman, kepelatihan sangat erat dengan dunia pendidikan. Setiap proses latihan dipandang sebagai ruang belajar, bukan sekadar rutinitas teknis. “Saya selalu menikmati proses mengajar dan belajar,” katanya.
Pendekatan tersebut membentuk identitas Herdman sebagai pelatih yang menempatkan pengembangan karakter sejajar dengan pencapaian prestasi. “Pada intinya, saya pikir sebagian besar pelatih adalah guru,” ujar Herdman.
Dia menilai tugas pelatih tidak berhenti pada strategi atau taktik pertandingan semata. “Mereka ingin mengajar dan membantu orang menjadi lebih baik dan berkembang,” ucapnya.
Filosofi ini menjadi fondasi dalam seluruh perjalanan karier Herdman, mulai dari level akar rumput, akademi, hingga sepak bola internasional.
Kini, pendekatan edukatif tersebut dia bawa ke Indonesia dengan tujuan membangun mentalitas, karakter, serta kualitas sepak bola nasional secara menyeluruh.
Herdman menekankan proses jangka panjang sebagai kunci utama, bukan sekadar hasil instan, dalam upaya membawa sepak bola Indonesia ke level yang lebih tinggi.
Editor: Abdul Haris